Kamis, 10 Februari 2011

Mario Teguh Super Point 13 - Ambisi

"Berambisilah.

Sesungguhnya,
ambisimu menentukan ketinggianmu.

Perbaikilah pengertian umum
yang salah mengenai ambisi.

Orang yang membenci ambisi
adalah mereka yang merasa
terlukai dan direndahkan oleh
ambisi orang lain.

Maka pastikanlah ambisimu,
yaitu kerinduanmu untuk menjadi
pribadi besar yang berwenang
memajukan kebaikan bagi
sesamamu dan alam,
menjadikanmu pribadi yang santun
dan penuh kasih."


Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880

“Ambisi itu sesuatu yang baik, setiap orang harus memilikinya. Karena ambisi merupakan cita-cita atau apa yang ingin dituju atau roh seorang manusia untuk survive dalam hidupnya. Kalau orang tidak memiliki ambisi, berarti dia tidak mengisi kehidupannya” (Tika Bisono MPsi Psi)*

"Ambisi". Sebuah kata yang mungkin sudah berada di otak kita yang sudah lama kita kenal. Setiap manusia pasti memiliki 'kata' ini. "Ambisi" sering dikonotatifkan maknanya menjadi sesuatu yang 'buruk'. Dalam praktek kehidupan sehari-hari, kita sudah terbiasa melihat "ambisi" dalam bentuknya sebagai sesosok "monster" - bahkan sudah terlalu biasa. Demi yang bernama "ambisi", yang haram menjadi halal dan yang bathil menjadi hak - semua sudah terbolak-balik. Semua cara dilakukan; asal cita-cita atau tujuan tercapai - persetan dengan segala resiko, konsekuensi atau akibat yang ditimbulkan baik selama proses mencapainya maupun setelah tujuan itu dapat diraih.

Tapi, benarkah "ambisi" itu sesosok monster hingga sebegitu "menakutkan"? Atau setidaknya, apa benar "ambisi" telah menjadi satu kata "eksklusif" sehingga membuat sebagian orang merasa 'jengah'? Kalau kita mencoba memikirkan, ternyata "ambisi" itu adalah sesuatu yang natural, alami yang diilhamkan Tuhan kepada setiap manusia. Masalahnya sekarang terletak pada konsep yang salah dan penggunaan makna dalam praktek kehidupan sehari-hari. Konsep yang salah (baca: keliru) akan melahirkan pemahaman yang salah/keliru yang menentukan penggunaan yang juga keliru/salah dalam kehidupan.

"Ambisi" - seperti yang telah disebutkan di atas - adalah nama lain dari "cita-cita". Secara umum (dalam arti positif), orang yang berambisi cenderung lebih bersemangat, lebih fokus dan lebih 'tahan banting' demi mencapai tujuan atau cita-citanya daripada orang yang 'tidak berambisi' - lebih tepatnya, tidak menggunakan potensi "ambisi" dalam dirinya. Mereka yang berambisi 'positif' akan mengerahkan seluruh kekuatan dirinya untuk merencanakan, melaksanakan dan menilai yang terbaik; berprestasi dan menghasilkan karya-karya luar biasa. Biasanya, mereka akan menggebu-gebu, terkadang tak sabaran yang sebenarnya jika dikelola dengan baik akan sangat membantu.

Lalu, bagaimana dengan ambisius? 
 
“Ambisius itu kata sifat dari ambisi. Yang namanya kata sifat ada positif dan negatifnya. Ambisi yang positif dimiliki oleh orang supaya bisa berprestasi dengan baik dan menghasilkan karya terbaik, sementara kalau yang negatif itu sebuah ambisi yang tidak sebanding dengan potensi yang dimiliki, sehingga dia akan memaksakan segala cara”  (Tika Bisono MPsi Psi)*

Dengan kata lain, "ambisius" adalah sikap "mau menang sendiri" bahkan "tak tahu diri"; cenderung memaksakan kehendak. Selanjutnya sudah bisa ditebak; segala cara akan dilakukan. Bagaimana bila 'ambisi' tidak tercapai? Ya..., mencari 'kambing hitam' atau paling tidak mencari-cari kesalahan yang tidak ada hubungannya dengan 'ambisi' itu sendiri - biasanya di luar kemampuan diri. Celakanya lagi, mayoritas kita "terperangkap" dalam konsep "ambisi" seperti ini.

Lalu bagaimana harus bersikap? Jawabannya hanya satu: Jangan takut berambisi. Seperti yang telah diungkapkan oleh Bapak Mario Teguh di atas, 'membenci' ambisi hanyalah sifat orang-orang 'kalah' dan 'terkalahkan' oleh orang lain dan zaman. Gambaran sifat 'tercela' karena hanya 'menerima'; bahkan, tidak beriman. Yang terpenting adalah memperbaiki pengertian atau pemahaman konsep makna kata "ambisi" itu sendiri sesuai dengan khittah-nya. Jadikan ambisi itu sebagai sesuatu 'kerinduan' yang membaikkan dan membesarkan dan menjadikan kita pribadi-pribadi yang penuh damai dan kasih sayang.

"Ambition is not a monster at all if it is utilized in the right manner" 




http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2010/08/ambisi-kerja.jpg 




Arif Budiman, S.S. 

* http://www.untukku.com/artikel-untukku/ambisi-vs-ambisius-apa-bedanya-untukku.html

Rabu, 09 Februari 2011

Mario Teguh Super Point 12 - "Garuda Di Dadaku"

"Siapa pun yang mengobarkan
semangatnya untuk menang,
harus menyiapkan keikhlasan
yang sama besarnya untuk
merasa damai saat dia dikalahkan.

Kemenangan adalah dampak logis
dari fokus yang utuh kepada
penggunaan kemampuan terbaik kita.

Dan kekalahan adalah tanda
bahwa kita harus memperbaiki diri.

Tapi, bola itu bulat.

Sehingga apa pun bisa terjadi.

Tuhan …
dengan Garuda di dada kami,
jayakanlah Indonesia.

Aamiin"


Mario Teguh
(Facebook)

Postingan Bapak Mario Teguh ini sebenarnya dimaksudkan untuk mendukung perjuangan Tim Merah Putih di ajang Piala AFF 2010 yang lalu. Postingan yang menggugah, menyemangati Tim Garuda agar terbang melintasi angkasa dengan perkasa. Tapi, yang saya akan bahas kali ini berfokus pada tiga "bait" pertama.

Ada baiknya kalau kita menyanyikan tembang "Garuda Di Dadaku" dari Netral terlebih dahulu:
"Ayo putra bangsa
Harumkan negeri ini
Jadikan kita bangga
Indonesia

Jayalah negaraku
Tanah air tercinta
Indonesia raya
Jayalah negaraku
Tanah air tercinta
Indonesia raya

Reff :
Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang..
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang.." 

(http://lirikbaru.com/lirik-lagu-netral-garuda-di-dadaku.htm)

"Semangat". Kata yang sudah sangat tidak asing lagi bagi kita semua. "Semangat" dapat dimaknai sebagai suatu sikap pantang menyerah, kerja keras, fokus dan sebagainya. Dengan kata "semangat", kita bisa bertahan hidup; bangkit dari keterpurukan dan membuktikan kualitas kebesaran diri. "Semangat" adalah api, cahaya hati untuk ikhlas dalam berbuat dengan berfokus utuh pada satu hal. "Semangat" pula yang menjadi pemantik penggunaan kemampuan terbaik yang kita miliki. Dengan demikian, kemenangan atau kesuksesan pun akan lebih mudah untuk diraih.

Tapi, "semangat" punya 'konsekuensi logisnya' yang lain. Belum tentu "semangat" yang menggiring manusia untuk meraih kemenangan atau kesuksesan akan berakhir dengan kesuksesan. Seringnya bahkan malah "jatuh tapai"; terpuruk dalam kekalahan. Sering sekali orang dalam keadaan ini menjadi gamang; tak tahu apa yang harus diperbuat, sibuk mencari alasan-alasan tak relevan atau mundur teratur dari zona perjuangan. Tapi, itu hanya untuk orang-orang yang tidak memiliki keteguhan hati dan kesetiaan terhadap perjuangan hidupnya sendiri. Orang-orang yang jiwanya dibangun dan ditumbuhi dengan pola-pola sikap dan fikir seperti ini memiliki 'reservoir keikhlasan' untuk menerima kekalahan-kekalahan ataupun penaklukan-penaklukan; bahkan 'ukurannya' jauh lebih besar dari "semangatnya". 'Reservoir' ini kemudian dijadikan Tuhan bertambah besar seiring dengan "semangatnya" yang juga bertambah besar untuk berinstrospeksi dan memperbaiki diri. Hingga pada suatu saat, tujuan yang direncanakannya berhasil; bahkan lebih baik lagi.


"Laiknya bola, di dunia ini apapun bisa terjadi. Ingatlah bahwa tak selamanya roda selalu berada di bawah; kadang di atas kadang di bawah. Jika berada di atas, gelak tawa akan menyeringai riuh. Bila di bawah, gelak tawa 'tertahan yang menusuk' sudah menjadi lauk pauk. Selama kita masih punya iman, tetaplah semangat sambil terus mensyukuri apa yang kita punya. Asa itu akan selalu ada.... Di sana dan... di hati kita...."




 

Arif Budiman, S.S.

Selasa, 08 Februari 2011

Mario Teguh Super Point 11 - Hati yang Menunda

"Berhati-hatilah dalam meyakini
bahwa
“Segala sesuatu akan indah
pada waktunya.”

Karena,
ada waktu untuk orang lamban,
dan ada waktu untuk dia yang cepat.

Keindahan itu lebih cepat datangnya,
jika kita tulus untuk segera memulai
dan setia bekerja sampai selesai.

Menunda tindakan yang baik
adalah menunda datangnya kebahagiaan,
sambil berendam di dalam kegelisahan.

Indahkanlah hidup Anda, segera."


Mario Teguh
(Facebook)

"Segala sesuatu akan indah pada waktunya". Sebuah kalimat surgawi. Sebuah kalimat yang menimbulkan rasa lega di hati. Sebuah kalimat yang sering membuat orang 'lupa diri'....!

Tunggu dulu! Kenapa kalimat ini membuat orang sering 'lupa diri'? Pertama kali mendengar atau membacanya, yang terasa tentu 'ketenangan' - meskipun pada waktu itu batin kita sedang gundah-gulana. Sebenarnya, ini bagus karena kita masih punya asa (lagi) di suatu masa. Namun jika kita 'terhanyut' dalam 'makna' tanpa berbuat apa-apa, itulah sumber masalah sebenarnya.

Idealnya, seseorang menggunakan kalimat ini untuk memotivasi diri sendiri; mungkin cocok menjadi pelipur lara saat sedang 'jatuh' bahkan ditambah dengan 'tertimpa tangga'. Setelah itu, dia akan bangkit dan berkata: "Saya adalah sang juara. Kegagalan ini hanya untuk sementara. Suatu saat nanti saya akan membuktikan siapa yang menjadi pecundang sebenarnya". Sugesti tersebut langsung terekam di otak dan disebarkan ke seluruh anggota tubuh, termasuk anggota gerak. Energi yang dihasilkannya pun sangat luar biasa. Kreativitas pun 'meletus' sampai repot sendiri dibuatnya. Dia segera memulai dan setia hingga selesai. Dan..., jiwa dan raganya akan merasakan keindahan dalam makna yang sebenarnya.

Sebaliknya, maknanya akan 'terdistorsi' jika yang membaca (atau yang mendengar) tetap berada dalam kondisinya semula, seperti sedia kala. Tak mau beranjak sedikitpun; toh akan indah juga pada akhirnya - begitu kata mereka. Padahal, waktu itu ibarat anak panah; sekali terlepas tidak akan pernah bisa berbalik arah. Menunda hanya akan menambah nestapa; bisa bertransformasi menjadi penyesalan nantinya jika tidak segera.

Intinya: 
"Don't wait till tomorrow what you can do today"







Arif Budiman, S.S. 

Sabtu, 05 Februari 2011

Mario Teguh Super Point 10 - The Power of Doa

"Tidak ada orang
yang sebagaimana pun gagahnya,
yang tidak pernah berdoa
dalam ketakutan karena ancaman
terhadap kebaikan hidup
dan keselamatan jiwanya.

Rasa takut adalah rahmat
yang mendekatkan kita kepada Tuhan,
yang mengharuskan penyerahan total
kepada kekuasaan dan perlindungan-Nya

Jika kita bersama Tuhan,
kekalahan pun adalah sebuah kemenangan.

Keberanian adalah rasa takut yang meyakini doanya."


Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880


Pada postingan terdahulu (Mario Teguh Super Point 7), saya sudah mengulas tentang makna sebuah kata, yaitu "berdoa". Tidak ada orang yang tidak pernah melakukan pekerjaan ini; seberapa gagah, kaya atau 'sombongnya' dia di dunia. Berdoa adalah 'keharusan'; manusia tidak lengkap tanpa berdoa. Manusia diciptakan sebagai hamba sekaligus wakil Tuhan di dunia. Karena itu, manusia mau tidak mau harus 'berdoa'; meminta apapun yang dibutuhkannya dalam menjalankan tugas-tugas mulia itu sehari-hari.

Rasa takut memang ada dalam setiap diri manusia. Rasa takut akan membuat manusia sangat berpotensi meraih hal-hal luar biasa dalam hidup. Rasa takut akan mendekatkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta karena semua urusan manusia berhasil atau tidaknya bersifat DIIJINKAN. Jika berhasil, keberhasilan itu adalah 'izin' Tuhan agar manusia yang mendapatkannya merasa bahagia dan bersyukur. Jikapun tidak, kegagalan itu juga adalah 'izin'; izin agar manusia yang mendapatkannya terus berusaha dalam cara-cara yang lebih baik sampai tujuan itu tercapai - yang bukan tidak mungkin akan 'bernilai' lebih besar dari yang pernah terlintas dalam benak; seperti kata pepatah "Mundur satu langkah untuk maju seribu langkah".Usaha-usaha tersebut harus dibarengi dengan doa dan sikap menyerahkan sepenuhnya selain hal-hal di luar kemampuan manusia itu sendiri.

Kebanyakan manusia jika ditimpakan kepadanya "kegagalan" - dalam bentuk apapun, cenderung berputus asa. Padahal, putus asa sangatlah tercela bahkan 'dibenci' oleh Tuhan. Tuhan pernah berfirman dalam surat Yusuf ayat 87: "... dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". Artinya, "berputus asa dari rahmat Tuhan" termasuk tanda-tanda orang kafir. Sesungguhnya dalam setiap kegagalan dan peristiwa yang telah terjadi, masih ada asa (harapan) di sana. Berpikiran positif-lah!

Tetaplah memelihara mimpi dan beranikanlah diri dan hati dalam berbuat dan mengambil keputusan! Yakinlah dengan kekuatan extraordinary doa dan kekuatan pikiran positif yang dimiliki! Berani adalah 'sinyal mata hati nurani' yang sepenuhnya meyakini akan terkabulnya doa yang dipintakan. Untuk 'hijrah' ke posisi ini, apalagi jika hati tetap bersikeras untuk 'diam di tempat' dan terus melanjutkan hal-hal atau perbuatan-perbuatan yang tidak akan membuat kita menjadi besar dan menjaga kehormatan diri dan orang-orang terdekat, memang terasa sangat sulit! Sulit-tidaknya adalah konsep yang kita bangun dalam diri; dalam memori pikiran, hati dan driver anggota tubuh. Sekali mengatakan 'sulit', maka dia akan 'sulit'. Ibarat virus!


"Cobalah dengan ikhlas dan konsep pikiran yang bersih dari distorsi apapun, termasuk cinta yang 'membutakan'. Fokuslah segala daya, upaya, pikiran dan tenaga; lalu, perhatikan apa yang akan terjadi..."


  




Arif Budiman, S.S.
  

Rabu, 02 Februari 2011

Mario Teguh Super Point 9 - Ketakutan Menghadapi Masa Depan

"Ketakutan mengenai ketidak-pastian masa depan
adalah perasaan yang lebih kuat daripada
ketakutan terhadap kemiskinan.

Mungkin itu sebabnya,
banyak orang lebih memilih tidak bertindak
karena ketakutannya mengenai masa depan,
dan hidup seperti berjalan sambil tidur,
menuju kelemahan hidup.

Jika kita beriman, seharusnya kita lebih berani."


Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880


Pada postingan sebelumnya, saya sudah membahas arti penting "keberanian". Secara garis besar, keberanian 'wajib' dimiliki bagi individu-individu yang menginginkan adanya perubahan dalam hidup untuk mengejar apa yang dicita-citakan. Singkatnya, tidak ada perubahan apapun tanpa dilandasi dengan keberanian.

Sementara itu, ketakutan akan menghambat bahkan menjauhkan kita dari cita-cita besar yang ingin dicapai. Memang sangatlah manusiawi memiliki perasaan takut - terlepas apakah besar atau kecil. Kita semua dibekali potensi yang sama besar; untuk berani dan untuk takut. Masalahnya, jika berlebihan atau 'terlalu' - termasuk perasaan takut, tentu yang rugi diri kita sendiri.

Dalam konteks mewujudkan cita-cita, ketakutan perlu dikelola dengan baik. Misalnya, mentransformasikan perasaan takut menjadi sikap hati-hati, mawas diri dan sebagainya. Dengan demikian, kita akan selalu 'berada pada jalurnya' alias tetap fokus.

Kebanyakan orang sering salah kaprah dalam memaknai perasaan takut. Mereka memang ingin memiliki kehidupan yang lebih baik dari sekarang, untuk anak-cucu bahkan. Tapi, mereka cenderung lebih suka sebatas membuat rencana-rencana besar. Begitu sampai pada tahap 'eksekusi' atau pelaksanaannya, mereka 'gamang', takut, cemas begitu sadar akan segala resiko dan tantangan yang harus dihadapi. Mereka berpikir negatif, ragu akan masa depan yang memang tampak 'tak pasti'. Padahal, masa depan itu belum terjadi; masa depan ditentukan oleh masa kini - whatever it is. Mereka lalu surut, mundur, menyerah kalah sebelum berperang. Pada akhirnya, mereka 'menyesal' mengapa tidak (berani) melakukan apa yang seharusnya dilakukan (dulu). Lalu, mereka mencari 'kambing hitam'; tidak (berani) menginstrospeksi diri sendiri. Cita-cita besar itu kemudian hanya tinggal dalam 'kenangan' yang tak akan mungkin terwujud - menurut mereka. Mereka tetap hidup seperti 'apa adanya'.

Jadi, janganlah takut akan masa depan! Yang kita butuhkan hanyalah sedikit keberanian untuk mencoba dan berusaha semaksimal mungkin sebatas kemampuan. Lagipula, Tuhan tidak pernah 'mewajibkan' hamba-Nya untuk berhasil dalam setiap usaha. Jika nantinya kita gagal juga, setidaknya kita pernah membuat Tuhan 'tersenyum' karena kita menjalankan perintah-Nya dalam ikhlas dan iman. Kalaupun (masih) ada juga penyesalan itu, tingkatannya tidaklah separah yang kita rasakan kalau kita tidak berbuat apa-apa. Kita masih bisa 'tersenyum' menghadapi dunia.








Arif Budiman, S.S. 

Mario Teguh Super Point 8 - Keberanianku Kecintaan Tuhanku

"Ini pesanku kepadamu,

Isilah hatimu dengan keberanian.

Sesungguhnya keberanian adalah
bentuk gagah dari keikhlasan hatimu.

Jika engkau memberanikan diri
di atas semua batasanmu,
karena kecintaanmu untuk
menguntungkan sesamamu,
maka kehidupan surgamu
telah kau mulai dalam
kehidupan duniamu.

Tuhan Langit Dan Bumi
tak akan mengecewakan jiwa
yang gagah dan ikhlas seperti mu.

Engkau jiwa kecintaan Tuhan."

"Keberanian" berasal dari kata "berani" yang dalam Bahasa Inggris disebut sebagai "brave". Artinya "possessing or exhibiting courage or courageous endurance (= memiliki atau menunjukkan keteguhan hati atau ketabahan)*". Jadi, arti "keberanian" itu adalah suatu sikap memiliki atau menunjukkan keteguhan hati atau ketabahan. "Keberanian" merupakan sikap mental konstruktif yang menjadi 'ujung tombak' tercapainya banyak hal-hal atau cita-cita besar dalam sejarah peradaban manusia. Dengan kata lain, "keberanian" adalah modal dasar untuk maju.

Orang yang mengatakan pada dirinya "Saya adalah orang yang berani", dalam memori otaknya sudah terekam kata-kata itu secara otomatis; apalagi bila dia memahami arti kata-kata yang diucapkannya itu. Setelah itu, otak mengirim impuls-impuls listrik berisi 'perintah' kepada seluruh anggota tubuh agar 'mengeksekusi' arti kata-kata yang baru diucapkan. Itulah sebabnya mengapa saat kita menyatakan bahwa kita "berani", perasaan-perasaan negatif yang kontraproduktif seperti takut, cemas dan sebagainya akan "hilang". Hilangnya perasaan-perasaan ini dibarengi dengan munculnya semangat, optimisme, kreativitas dan sebagainya.

Ada banyak berani yang bisa muncul, diantaranya**: 
  • Berani menentukan cita-cita yang tinggi
  • Berani bangkit lagi dari kegagalan
  • Berani belajar dari kelemahan dan kesalahan
  • Berani membayar harga untuk keberhasilan
  • Berani memastikan untuk berjuang sampai sukses
Orang-orang yang mempunyai keberanian tidak akan mudah berputus asa. Dengan keberaniannya, dia akan terus berusaha sekuat tenaga mencapai cita-cita dan menyerahkan selebihnya kepada Tuhan. Dia percaya bahwa suatu saat nanti - cepat atau lambat - akan berhasil; hanya masalah waktu. Dalam dirinya, seluruh kekuatan luar biasa dan potensial sudah bergabung; pikiran, perasaan, sugesti dan sebagainya. Hasil 'penggabungan' ini akan melahirkan pribadi-pribadi dengan jiwa-jiwa yang pantang menyerah dan penuh keikhlasan.

Bagi mereka yang berani, dibalik seluruh batasan yang dimiliki masih ada pengharapan; berapapun ukurannya. Tuhan dan apa-apa yang ada di Langit dan di Bumi tentu tak akan menyia-nyiakan mereka. Walaupun hasil yang diperoleh tidak sempat mereka kecap sendiri, orang lain akan merasakannya - terdekat atau bahkan terjauh - yang akan mengingat jasa-jasa dan perjuangan mereka dan mengirimkan doa.



http://www.martinfrost.ws/htmlfiles/nov2006/victoria03.jpg


Arif Budiman, S.S.

Selasa, 01 Februari 2011

Mario Teguh Super Point 7 - Berdoa

"Mudah bagi siapa pun
untuk melupakan Tuhan
dan bahkan menganggap
bahwa dirinya telah cukup,
saat semuanya aman dan lancar.

Tetapi,
dalam kesulitan yang ancamannya
sangat nyata terhadap kebaikan nama
dan keselamatan jiwanya,
tidak ada orang yang bagaimana pun
kerontangnya hatinya dari iman,
yang tidak akan secara rahasia
berdoa kepada Tuhan.

Marilah kita berdoa,
sebelum berdoa dipaksakan atas kita."


Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880


"'Ud'uni astajib lakum (= Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doamu)". Berdoa.... Siapa yang tak pernah berdoa? Dari orang 'rendahan' sampai penguasa, dari rakyat miskin jelata hingga orang super kaya, dari kecil hingga tua; semuanya pernah berdoa - setidaknya sekali seumur hidup. Berdoa dilakukan dengan berbagai macam 'kepentingan'; meminta rezeki, meminta pengampunan, meminta perlindungan bahkan meminta jodoh. Semuanya hanya perlu satu solusi all-in-one: DOA.

Siapa saja yang 'merasa' tidak pernah berdoa akan dianggap 'mbahnya pembangkang'. Masak, berdoa sama yang menciptakannya hanya untuk 'sekedar berkomunikasi' saja tidak mau? Doa termasuk intisari ibadah; berdoa adalah bentuk komunikasi langsung antara manusia dengan Sang Khalik. Pada saat yang bersamaan, doa adalah bentuk 'fasilitas istimewa' yang Tuhan berikan kepada manusia - wakil-Nya di muka bumi - dan bentuk dari kasih sayang Tuhan. Dalam berdoa, seseorang dapat dengan mudahnya 'mengekspresikan' perasaan dan keinginannya agar 'didengar' dan dikabulkan oleh Sang Penguasa Semesta. Dalam doa juga, seseorang dapat menghiba bahkan 'merayu' Tuhan; layaknya kekasih. Dan, tahukah Anda bahwa Tuhan sangat 'merindukan' kedua hal yang terakhir ini?

Tentu, doa punya 'aturan main' sendiri. Memang, doa bisa dilakukan dimana saja, kapan saja dan dalam keadaan apa saja. Doa bisa pula dilakukan dalam segala jenis bahasa; Indonesia, Arab, Perancis, Jerman, Jepang (bahkan Bahasa 'Planet' Extra-Terrestrial/ET kalau Anda bisa). Setiap insan yang ingin berdoa (dan pastinya ingin sekali segala yang didoakannya terkabul/terpenuhi) harus ikhlas 'tunduk' pada aturan bakunya, seperti mengikuti adab berdoa dan waktu yang 'sangat direkomendasikan alias terbaik' untuk berdoa. Sebagai contoh, berdoa dalam shalat, terutama shalat wajib lima waktu, sangat dianjurkan. Pun, shalat dalam waktu-waktu tertentu - misalnya saat sedang hujan - juga sangat dianjurkan. Dan, doa punya satu syarat mutlak untuk dikabulkan: rajin menghubungi nomor SLJJ 24434.

Di atas, saya menyinggung sedikit soal berdoa saat sedang hujan. Di sini, saya ingin berbagi pengalaman. Saya pribadi pernah beberapa kali mencobanya. Kesan pertama yang saya rasakan adalah perasaan TENANG, DAMAI, SEJUK. Setelah itu, saya merasa apapun yang saya pikirkan 'menggema' dalam turunnya tetesan-tetesan hujan. Kuncinya: semakin deras atau lebat hujannya, semakin menggema. Jika yang terlintas atau yang 'dimainkan' dalam benak saya pada waktu itu adalah tembang atau musik yang saya suka, dia akan 'menggema' hingga menciptakan semacam simfoni hati dan pikiran, melarutkan segala rasa dan asa. Gemanya saya rasakan bahkan 'mengalahkan' suara hujan itu sendiri. Saya tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi; mungkin karena turunnya hujan berarti turunnya rahmat-Nya lewat tetesan-tetesan air - sebagai sumber kehidupan - yang jumlahnya tak terhingga.
                 


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcVFln117dJZz-N4jzyr51NVNLlm9BGYu4IBvriJTtVuD6iZf7fovKObjzxKDtHKgSb80c_osz-13aoT989qPb8QYphPm78FxJiXQ3okyJAhPdM3ygXlLJ-veMlVwjnQMEOD0Z2rFB8Dc/s1600/16431_1071672008822_1736799459_146124_7407118_n.jpg 



Arif Budiman, S.S.