"Mudah bagi siapa pun
untuk melupakan Tuhan
dan bahkan menganggap
bahwa dirinya telah cukup,
saat semuanya aman dan lancar.
Tetapi,
dalam kesulitan yang ancamannya
sangat nyata terhadap kebaikan nama
dan keselamatan jiwanya,
tidak ada orang yang bagaimana pun
kerontangnya hatinya dari iman,
yang tidak akan secara rahasia
berdoa kepada Tuhan.
Marilah kita berdoa,
sebelum berdoa dipaksakan atas kita."
Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880
"'Ud'uni astajib lakum (= Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doamu)". Berdoa.... Siapa yang tak pernah berdoa? Dari orang 'rendahan' sampai penguasa, dari rakyat miskin jelata hingga orang super kaya, dari kecil hingga tua; semuanya pernah berdoa - setidaknya sekali seumur hidup. Berdoa dilakukan dengan berbagai macam 'kepentingan'; meminta rezeki, meminta pengampunan, meminta perlindungan bahkan meminta jodoh. Semuanya hanya perlu satu solusi all-in-one: DOA.
Siapa saja yang 'merasa' tidak pernah berdoa akan dianggap 'mbahnya pembangkang'. Masak, berdoa sama yang menciptakannya hanya untuk 'sekedar berkomunikasi' saja tidak mau? Doa termasuk intisari ibadah; berdoa adalah bentuk komunikasi langsung antara manusia dengan Sang Khalik. Pada saat yang bersamaan, doa adalah bentuk 'fasilitas istimewa' yang Tuhan berikan kepada manusia - wakil-Nya di muka bumi - dan bentuk dari kasih sayang Tuhan. Dalam berdoa, seseorang dapat dengan mudahnya 'mengekspresikan' perasaan dan keinginannya agar 'didengar' dan dikabulkan oleh Sang Penguasa Semesta. Dalam doa juga, seseorang dapat menghiba bahkan 'merayu' Tuhan; layaknya kekasih. Dan, tahukah Anda bahwa Tuhan sangat 'merindukan' kedua hal yang terakhir ini?
Tentu, doa punya 'aturan main' sendiri. Memang, doa bisa dilakukan dimana saja, kapan saja dan dalam keadaan apa saja. Doa bisa pula dilakukan dalam segala jenis bahasa; Indonesia, Arab, Perancis, Jerman, Jepang (bahkan Bahasa 'Planet' Extra-Terrestrial/ET kalau Anda bisa). Setiap insan yang ingin berdoa (dan pastinya ingin sekali segala yang didoakannya terkabul/terpenuhi) harus ikhlas 'tunduk' pada aturan bakunya, seperti mengikuti adab berdoa dan waktu yang 'sangat direkomendasikan alias terbaik' untuk berdoa. Sebagai contoh, berdoa dalam shalat, terutama shalat wajib lima waktu, sangat dianjurkan. Pun, shalat dalam waktu-waktu tertentu - misalnya saat sedang hujan - juga sangat dianjurkan. Dan, doa punya satu syarat mutlak untuk dikabulkan: rajin menghubungi nomor SLJJ 24434.
Di atas, saya menyinggung sedikit soal berdoa saat sedang hujan. Di sini, saya ingin berbagi pengalaman. Saya pribadi pernah beberapa kali mencobanya. Kesan pertama yang saya rasakan adalah perasaan TENANG, DAMAI, SEJUK. Setelah itu, saya merasa apapun yang saya pikirkan 'menggema' dalam turunnya tetesan-tetesan hujan. Kuncinya: semakin deras atau lebat hujannya, semakin menggema. Jika yang terlintas atau yang 'dimainkan' dalam benak saya pada waktu itu adalah tembang atau musik yang saya suka, dia akan 'menggema' hingga menciptakan semacam simfoni hati dan pikiran, melarutkan segala rasa dan asa. Gemanya saya rasakan bahkan 'mengalahkan' suara hujan itu sendiri. Saya tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi; mungkin karena turunnya hujan berarti turunnya rahmat-Nya lewat tetesan-tetesan air - sebagai sumber kehidupan - yang jumlahnya tak terhingga.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcVFln117dJZz-N4jzyr51NVNLlm9BGYu4IBvriJTtVuD6iZf7fovKObjzxKDtHKgSb80c_osz-13aoT989qPb8QYphPm78FxJiXQ3okyJAhPdM3ygXlLJ-veMlVwjnQMEOD0Z2rFB8Dc/s1600/16431_1071672008822_1736799459_146124_7407118_n.jpg
Arif Budiman, S.S.
Selasa, 01 Februari 2011
Senin, 31 Januari 2011
Mario Teguh Super Point 6 - Rencana Besar
"Janganlah membuat rencana yang kecil,
karena ia mudah dicapai, dan bahkan
pencapaiannya telah lama terbayang
sebelum Anda memulainya.
Itu sebabnya rencana kecil
tidak menyemangati Anda, dan
tidak akan menarik perhatian orang lain
untuk menjadikan Anda
sebagai pemimpin mereka.
Rencanakanlah pencapaian
dari hal-hal yang besar.
Lihatlah ke atas.
Hanya orang yang melihat ke atas
yang melihat jalan naik."
Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880
Kali ini, Mario Teguh Super Point membahas mengenai "rencana". Kita tentu sudah tahu apa itu "rencana"; yang pasti, yang namanya "rencana" dibuat sebelum "tindakan". Tujuannya agar "tindakan" yang akan dilakukan nantinya akan berjalan sesuai dengan "yang seharusnya". Dengan menyusun "rencana", kita juga sudah menetapkan apa yang dibutuhkan, apa tujuan yang ingin dicapai dan langkah-langkah dalam mewujudkan tujuan. Tentu saja, semuanya harus well organized.
Dalam membuat rencana, kita dianjurkan berfokus kepada sesuatu yang besar; lebih besar dari yang biasa. Jika kita membuat rencana tentang hal-hal yang kecil, kita biasanya jauh lebih MUDAH mencapainya dan hasilnya bisa dilihat SAAT ITU JUGA. Membuat rencana-rencana kecil biasanya juga tidak menumbuhkan atau 'meng-enable' MOTIVASI dan SUGESTI yang merupakan dua energi 'raksasa' dalam setiap diri kita. Akibatnya sudah bisa ditebak, kita sudah bisa 'memastikan' hasilnya jauh sebelum kita melaksanakan bahkan merencanakan. Hal itu masih ditambah lagi dengan mandeg-nya sense of creativity, salah satu 'rahasia sukses' orang-orang besar. Rentetan akibat selanjutnya adalah - seperti yang sudah diungkap Bapak Mario - tidak akan menarik perhatian orang sama sekali (karena sudah lumrah alias lazim) sehingga tidak 'pantas' untuk dijadikan contoh teladan atau pimpinan.
Sebaliknya, membuat rencana-rencana yang besar akan membuat kita TERTANTANG untuk mewujudkannya; apalagi bila semua orang di sekitar 'petantang-petenteng' men-judge kalau hal-hal itu impossible untuk dicapai. Fokus, motivasi dan sugesti akan aktif; kreativitas pun akan berkobar. Kegagalan dalam mencapainya justru akan menjadi senjata dan amunisi tambahan untuk kembali bangkit dan bangkit atas nama sesuatu; PEMBUKTIAN. Jika pun harus 'gatot' alias gagal total hasil dari pengerahan segala daya dan upaya A hingga Z, itu akan melambungkan nama baik kita - bak seorang 'pahlawan'. Setidaknya, kita adalah "the first (yang pertama)" dan bukan "the better (yang lebih baik)" ataupun "the best (yang terbaik)". Dalam ilmu bisnis - seperti yang diungkapkan oleh Bapak Mario, "yang pertama" tidak akan mungkin bisa dikalahkan oleh "yang lebih baik" apalagi "yang terbaik". Tahu kenapa? Ya, karena sebelum ada dua terakhir, tentu ada "yang pertama". Dengan kata lain: "Jika harus jatuh, jatuhlah yang besar karena daya lambungnya akan jauh lebih besar".
Sebagai tambahan, dalam membuat rencana (yang besar) kita juga bisa menerapkan konsep "Analisis SWOT"; meskipun sudah biasa diterapkan dalam perusahaan atau organisasi; Strength (kelebihan), Weaknesses (kelemahan/kekurangan), Opportunities (kesempatan/peluang) dan Threats (ancaman/tantangan). Untuk lebih jelasnya, silahkan baca artikelnya di sini: http://aguswibisono.com/2010/analisis-swot-strength-weakness-opportunity-threat/. Dalam eksekusi atau pelaksanaannya, pakailah "Kacamata Kuda" ala Bapak Mario Teguh (dapat dilihat videonya di http://metrotvnews.com/read/newsprograms/2011/01/30/8118/187/Kacamata-Kuda). Konsep "Kacamata Kuda" ini secara garis besar adalah FOKUS, fokus terhadap yang membesarkan kita dengan rencana-rencana besar yang telah kita buat dan abai kepada hal-hal yang membuat kita lalai, terlena atau bahkan 'menoleh kembali ke belakang'.
Salam super untuk semuanya....!
http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/01/rencana-dan-evaluasi.png
Arif Budiman, S.S.
karena ia mudah dicapai, dan bahkan
pencapaiannya telah lama terbayang
sebelum Anda memulainya.
Itu sebabnya rencana kecil
tidak menyemangati Anda, dan
tidak akan menarik perhatian orang lain
untuk menjadikan Anda
sebagai pemimpin mereka.
Rencanakanlah pencapaian
dari hal-hal yang besar.
Lihatlah ke atas.
Hanya orang yang melihat ke atas
yang melihat jalan naik."
Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880
Kali ini, Mario Teguh Super Point membahas mengenai "rencana". Kita tentu sudah tahu apa itu "rencana"; yang pasti, yang namanya "rencana" dibuat sebelum "tindakan". Tujuannya agar "tindakan" yang akan dilakukan nantinya akan berjalan sesuai dengan "yang seharusnya". Dengan menyusun "rencana", kita juga sudah menetapkan apa yang dibutuhkan, apa tujuan yang ingin dicapai dan langkah-langkah dalam mewujudkan tujuan. Tentu saja, semuanya harus well organized.
Dalam membuat rencana, kita dianjurkan berfokus kepada sesuatu yang besar; lebih besar dari yang biasa. Jika kita membuat rencana tentang hal-hal yang kecil, kita biasanya jauh lebih MUDAH mencapainya dan hasilnya bisa dilihat SAAT ITU JUGA. Membuat rencana-rencana kecil biasanya juga tidak menumbuhkan atau 'meng-enable' MOTIVASI dan SUGESTI yang merupakan dua energi 'raksasa' dalam setiap diri kita. Akibatnya sudah bisa ditebak, kita sudah bisa 'memastikan' hasilnya jauh sebelum kita melaksanakan bahkan merencanakan. Hal itu masih ditambah lagi dengan mandeg-nya sense of creativity, salah satu 'rahasia sukses' orang-orang besar. Rentetan akibat selanjutnya adalah - seperti yang sudah diungkap Bapak Mario - tidak akan menarik perhatian orang sama sekali (karena sudah lumrah alias lazim) sehingga tidak 'pantas' untuk dijadikan contoh teladan atau pimpinan.
Sebaliknya, membuat rencana-rencana yang besar akan membuat kita TERTANTANG untuk mewujudkannya; apalagi bila semua orang di sekitar 'petantang-petenteng' men-judge kalau hal-hal itu impossible untuk dicapai. Fokus, motivasi dan sugesti akan aktif; kreativitas pun akan berkobar. Kegagalan dalam mencapainya justru akan menjadi senjata dan amunisi tambahan untuk kembali bangkit dan bangkit atas nama sesuatu; PEMBUKTIAN. Jika pun harus 'gatot' alias gagal total hasil dari pengerahan segala daya dan upaya A hingga Z, itu akan melambungkan nama baik kita - bak seorang 'pahlawan'. Setidaknya, kita adalah "the first (yang pertama)" dan bukan "the better (yang lebih baik)" ataupun "the best (yang terbaik)". Dalam ilmu bisnis - seperti yang diungkapkan oleh Bapak Mario, "yang pertama" tidak akan mungkin bisa dikalahkan oleh "yang lebih baik" apalagi "yang terbaik". Tahu kenapa? Ya, karena sebelum ada dua terakhir, tentu ada "yang pertama". Dengan kata lain: "Jika harus jatuh, jatuhlah yang besar karena daya lambungnya akan jauh lebih besar".
Sebagai tambahan, dalam membuat rencana (yang besar) kita juga bisa menerapkan konsep "Analisis SWOT"; meskipun sudah biasa diterapkan dalam perusahaan atau organisasi; Strength (kelebihan), Weaknesses (kelemahan/kekurangan), Opportunities (kesempatan/peluang) dan Threats (ancaman/tantangan). Untuk lebih jelasnya, silahkan baca artikelnya di sini: http://aguswibisono.com/2010/analisis-swot-strength-weakness-opportunity-threat/. Dalam eksekusi atau pelaksanaannya, pakailah "Kacamata Kuda" ala Bapak Mario Teguh (dapat dilihat videonya di http://metrotvnews.com/read/newsprograms/2011/01/30/8118/187/Kacamata-Kuda). Konsep "Kacamata Kuda" ini secara garis besar adalah FOKUS, fokus terhadap yang membesarkan kita dengan rencana-rencana besar yang telah kita buat dan abai kepada hal-hal yang membuat kita lalai, terlena atau bahkan 'menoleh kembali ke belakang'.
Salam super untuk semuanya....!
http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/01/rencana-dan-evaluasi.png
Arif Budiman, S.S.
Sabtu, 29 Januari 2011
Mario Teguh Super Point 5 - Menjadi Diri Sendiri
"“Jadilah dirimu sendiri”
adalah anjuran yang harus disikapi
dengan berhati-hati.
Jika selama ini diri kita adalah
Pribadi Nanti,
yang lebih suka menunda,
atau Pribadi Seandainya,
yang suka menelantarkan yang nyata
untuk yang seandainya,
maka menjadi diri sendiri
hanya akan melanjutkan
kelemahan hidup.
“Jadilah dirimu yang lebih baik”
adalah anjuran yang lebih sesuai
bagi kehidupan yang lebih baik."
Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880
Pada postingan kali ini, saya akan sedikit mengulas 'status' Bapak Mario Teguh tentang "Menjadi Diri Sendiri". Sudah biasa kita mendengar dan membaca bahwa 'menjadi diri sendiri (be yourself) itu sangatlah positif. Bahkan, banyak orang yang menjadikannya 'filosofi hidup'. Entah mereka paham maksudnya atau tidak, yang jelas 'frase' ini sangat mudah untuk dibaca. Setidaknya - kata mereka pula - frase ini cool bangetzzzz.....
Tapi, yang diangkat oleh Bapak Mario bukanlah 'makna yang biasa'; sisi makna lain dari frase ini. "Menjadi diri sendiri" dalam artian "tetap menjadi diri yang apa adanya dari dulu hingga kini" alias "tidak berubah (sama sekali)" sama saja merugi. Dari waktu ke waktu, dia tetap seperti dia sekarang yang sering dikeluhkesahkannya TANPA ada daya-upaya plus sugesti (kekuatan pikiran, begitu kata Mas Romi Rafael) untuk menjadikan hidupnya lebih baik. Dia lebih suka menyalahkan keadaan, bahkan orang lain. Maka, frase "menjadi diri sendiri" dalam artian seperti ini tidak akan membawa manfaat apa-apa; istilahnya untuk zaman sekarang jadul man....!
Begitu pula jika artinya "pribadi yang suka menunda" alias Pribadi Nanti. Bapak Mario pernah berkata bahwa kekuatan 'inhibitor' terbesar di diri kita itu adalah kekuatan untuk menunda; menunda segala sesuatu. "Nanti deh..." atau "Besok deh..." adalah ungkapan-ungkapan yang seringkali keluar dari lidah, padahal saat itu dia masih punya kesempatan/peluang/waktu. Akhirnya, dia menyesal tidak melakukan apa yang seharusnya sudah dia lakukan di masa lalu karena di masa kini, dia sudah tidak punya waktu/kesempatan/peluang lagi. Mungkin, kita harus kembali pada pepatah Wong Kulon zadul tapi top; "Don't wait till tomorrow what you can do today!". Atau, bagi yang pengen sedikit 'religius'; "Ingatlah yang lima (perkara) sebelum datang yang lima (perkara)"...!
Hal yang sama juga berlaku bagi Pribadi Seandainya. Inilah 'pribadi-pribadi' yang suka 'berandai-andai', menerawang terlalu jauh, terlalu 'liar' dalam alam pikirannya sendiri yang tak terbatas hingga lalai dan terbuai. Memang, 'berimajinasi' - menurut Mamak Albert Einstein - adalah sesuatu yang positif; kata Beliau: "Start everything from your imagination" - begitulah kira-kira. Dari imajinasi akan timbul sugesti yang kuat untuk mewujudkannya dalam usaha, doa dan tawakal. Contohnya, sejak dahulu orang ingin sekali bisa terbang seperti burung; sejak saat itu, berbagai usaha dilakukan hingga memakan korban jiwa. Tapi, mereka yang punya sugesti, visi dan misi sekuat - bahkan jauh lebih kuat dari baja atau logam terkuat di dunia (adamantium miliknya Mas Wolverine) terus berusaha pantang menyerah karena haqqul yaqin bahwa - suatu saat - PASTI berhasil. Sekarang, kita sudah melihat hasilnya; bahkan jauh lebih hebat dari yang pernah dibayangkan sebelumnya bahkan yang belum pernah terlintas dalam benak para pionir tersebut. "Menjadi diri sendiri yang hanya suka berandai-andai hingga kelewat batas" jelas sangat kontraproduktif.
Intinya, PERUBAHAN atau HIJRAH. Berubah atau hijrah dari pribadi yang suka 'berandai-andai' menjadi yang punya sugesti dan keyakinan yang luar biasa (hingga mampu memecahkan sebuah gelas; jadi ingat acara "It's Your Time" di MetroTV semalam tanggal 29 Januari 2011). Berubah atau hijarah dari pribadi yang suka menunda-nunda apa yang bisa dikerjakan hari ini menjadi yang suka melakukan segalanya on time, bahkan di saat kepepet pun 'diubah' menjadi sebuah 'mahakarya'. Sekarang terserah kepada kita: mau memilih yang mana?
Arif Budiman, S.S.
adalah anjuran yang harus disikapi
dengan berhati-hati.
Jika selama ini diri kita adalah
Pribadi Nanti,
yang lebih suka menunda,
atau Pribadi Seandainya,
yang suka menelantarkan yang nyata
untuk yang seandainya,
maka menjadi diri sendiri
hanya akan melanjutkan
kelemahan hidup.
“Jadilah dirimu yang lebih baik”
adalah anjuran yang lebih sesuai
bagi kehidupan yang lebih baik."
Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880
Pada postingan kali ini, saya akan sedikit mengulas 'status' Bapak Mario Teguh tentang "Menjadi Diri Sendiri". Sudah biasa kita mendengar dan membaca bahwa 'menjadi diri sendiri (be yourself) itu sangatlah positif. Bahkan, banyak orang yang menjadikannya 'filosofi hidup'. Entah mereka paham maksudnya atau tidak, yang jelas 'frase' ini sangat mudah untuk dibaca. Setidaknya - kata mereka pula - frase ini cool bangetzzzz.....
Tapi, yang diangkat oleh Bapak Mario bukanlah 'makna yang biasa'; sisi makna lain dari frase ini. "Menjadi diri sendiri" dalam artian "tetap menjadi diri yang apa adanya dari dulu hingga kini" alias "tidak berubah (sama sekali)" sama saja merugi. Dari waktu ke waktu, dia tetap seperti dia sekarang yang sering dikeluhkesahkannya TANPA ada daya-upaya plus sugesti (kekuatan pikiran, begitu kata Mas Romi Rafael) untuk menjadikan hidupnya lebih baik. Dia lebih suka menyalahkan keadaan, bahkan orang lain. Maka, frase "menjadi diri sendiri" dalam artian seperti ini tidak akan membawa manfaat apa-apa; istilahnya untuk zaman sekarang jadul man....!
Begitu pula jika artinya "pribadi yang suka menunda" alias Pribadi Nanti. Bapak Mario pernah berkata bahwa kekuatan 'inhibitor' terbesar di diri kita itu adalah kekuatan untuk menunda; menunda segala sesuatu. "Nanti deh..." atau "Besok deh..." adalah ungkapan-ungkapan yang seringkali keluar dari lidah, padahal saat itu dia masih punya kesempatan/peluang/waktu. Akhirnya, dia menyesal tidak melakukan apa yang seharusnya sudah dia lakukan di masa lalu karena di masa kini, dia sudah tidak punya waktu/kesempatan/peluang lagi. Mungkin, kita harus kembali pada pepatah Wong Kulon zadul tapi top; "Don't wait till tomorrow what you can do today!". Atau, bagi yang pengen sedikit 'religius'; "Ingatlah yang lima (perkara) sebelum datang yang lima (perkara)"...!
Hal yang sama juga berlaku bagi Pribadi Seandainya. Inilah 'pribadi-pribadi' yang suka 'berandai-andai', menerawang terlalu jauh, terlalu 'liar' dalam alam pikirannya sendiri yang tak terbatas hingga lalai dan terbuai. Memang, 'berimajinasi' - menurut Mamak Albert Einstein - adalah sesuatu yang positif; kata Beliau: "Start everything from your imagination" - begitulah kira-kira. Dari imajinasi akan timbul sugesti yang kuat untuk mewujudkannya dalam usaha, doa dan tawakal. Contohnya, sejak dahulu orang ingin sekali bisa terbang seperti burung; sejak saat itu, berbagai usaha dilakukan hingga memakan korban jiwa. Tapi, mereka yang punya sugesti, visi dan misi sekuat - bahkan jauh lebih kuat dari baja atau logam terkuat di dunia (adamantium miliknya Mas Wolverine) terus berusaha pantang menyerah karena haqqul yaqin bahwa - suatu saat - PASTI berhasil. Sekarang, kita sudah melihat hasilnya; bahkan jauh lebih hebat dari yang pernah dibayangkan sebelumnya bahkan yang belum pernah terlintas dalam benak para pionir tersebut. "Menjadi diri sendiri yang hanya suka berandai-andai hingga kelewat batas" jelas sangat kontraproduktif.
Intinya, PERUBAHAN atau HIJRAH. Berubah atau hijrah dari pribadi yang suka 'berandai-andai' menjadi yang punya sugesti dan keyakinan yang luar biasa (hingga mampu memecahkan sebuah gelas; jadi ingat acara "It's Your Time" di MetroTV semalam tanggal 29 Januari 2011). Berubah atau hijarah dari pribadi yang suka menunda-nunda apa yang bisa dikerjakan hari ini menjadi yang suka melakukan segalanya on time, bahkan di saat kepepet pun 'diubah' menjadi sebuah 'mahakarya'. Sekarang terserah kepada kita: mau memilih yang mana?
Arif Budiman, S.S.
Selasa, 25 Januari 2011
Cinta - Sebuah Kontemplasi Makna [bagian 02]
CINTA vs LOGIKA
Secara kasat mata, cinta dan logika itu emang 'musuhan'....(dan lumrah dialami oleh mereka yang belum memiliki 'kematangan' dalam hidup; contohnya remaja, terutama yang baru saja 'menginjak usia belasan tahun')
Tapi bagi orang yang punya planning alias visi (dan misi) yang jauh ke depan, cinta dan logika adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan....
"Cinta" menerangi hati, jalan hidup serta sebagai anugerah Sang Pencipta; "Logika" juga menjadi pelita hati, penerang jalan, penentu mana yang benar dan mana yang salah (disinilah letak perbedaan sesungguhnya)...
Contoh: jika Anda 'jatuh cinta' pada seorang (maaf) pramuria (dan begitu pula sebaliknya); Anda satu trilyun persen memang tidak salah karena perasaan cinta itu adalah anugerah - kata Wong Kulon "Love is blind (Cinta itu buta, Man)", tapi jika Anda menggunakan logika maka ceritanya akan menjadi 'lain' karena Anda akan bisa memutuskan apakah Anda bersedia menikahinya atau tidak - jika dia tetap seperti keadaannya (dan untuk seterusnya seperti itu) sementara Anda ingin (baca: ngotot) menikahinya, apakah Anda mau mempunyai 'keturunan' dari laki-laki lain yang jelas-jelas BUKAN suaminya dan akan menjadi 'aib tersendiri' bagi Anda? Sebaliknya, jika dia ikhlas bertobat dan Anda mau menerima keadaannya plus 'masa lalunya' dengan apa adanya, apakah Anda akan konsisten dalam membimbingnya di jalan yang benar? (Ingat: Laki-laki adalah pemimpin dan penentu baik-buruknya garis keturunan karena menurut ilmu genetika, laki-laki 'satu-satunya makhluk' yang memiliki kromosom X dan Y - sementara perempuan hanya memiliki kromosom X).
Dengan kata lain, "cinta" adalah INSPIRASI UNTUK BERBUAT sementara "logika" adalah DECISION MAKER-nya.
Arif Budiman, S.S.
25 Januari 2011
Secara kasat mata, cinta dan logika itu emang 'musuhan'....(dan lumrah dialami oleh mereka yang belum memiliki 'kematangan' dalam hidup; contohnya remaja, terutama yang baru saja 'menginjak usia belasan tahun')
Tapi bagi orang yang punya planning alias visi (dan misi) yang jauh ke depan, cinta dan logika adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan....
"Cinta" menerangi hati, jalan hidup serta sebagai anugerah Sang Pencipta; "Logika" juga menjadi pelita hati, penerang jalan, penentu mana yang benar dan mana yang salah (disinilah letak perbedaan sesungguhnya)...
Contoh: jika Anda 'jatuh cinta' pada seorang (maaf) pramuria (dan begitu pula sebaliknya); Anda satu trilyun persen memang tidak salah karena perasaan cinta itu adalah anugerah - kata Wong Kulon "Love is blind (Cinta itu buta, Man)", tapi jika Anda menggunakan logika maka ceritanya akan menjadi 'lain' karena Anda akan bisa memutuskan apakah Anda bersedia menikahinya atau tidak - jika dia tetap seperti keadaannya (dan untuk seterusnya seperti itu) sementara Anda ingin (baca: ngotot) menikahinya, apakah Anda mau mempunyai 'keturunan' dari laki-laki lain yang jelas-jelas BUKAN suaminya dan akan menjadi 'aib tersendiri' bagi Anda? Sebaliknya, jika dia ikhlas bertobat dan Anda mau menerima keadaannya plus 'masa lalunya' dengan apa adanya, apakah Anda akan konsisten dalam membimbingnya di jalan yang benar? (Ingat: Laki-laki adalah pemimpin dan penentu baik-buruknya garis keturunan karena menurut ilmu genetika, laki-laki 'satu-satunya makhluk' yang memiliki kromosom X dan Y - sementara perempuan hanya memiliki kromosom X).
Dengan kata lain, "cinta" adalah INSPIRASI UNTUK BERBUAT sementara "logika" adalah DECISION MAKER-nya.
Arif Budiman, S.S.
25 Januari 2011
Senin, 24 Januari 2011
Cinta - Sebuah Kontemplasi Makna [bagian 01]
"Cinta adalah misteri.... Cinta adalah karunia.... Cinta adalah setumpuk perasaan yang membuatmu menjadi 'tampil beda dari biasanya'.... Cinta memberimu segalanya - semangat untuk bertahan hidup, inspirasi kreativitas tingkat tinggi bahkan mampu memperkaya hatimu.... Namun, cinta bisa pula membutakan; membutakan apapun, bahkan mata hatimu yang terdalam sang penyuara kebenaran sejati.... Pasangkan dia dengan akal sehatmu..., sehingga cinta yang kau miliki akan sempurna membahagiakanmu... SELAMANYA...."
Sabtu, 15 Januari 2011
Mario Teguh Super Point 4 - Ketegasan
"Engkau tak akan sampai
pada kedamaian hati
dan kebebasan tawa mu,
selama sikap mu dan
yang kau lakukan itu,
lebih kecil daripada cita-citamu.
Selama engkau tak tegas,
engkau akan tetap gelisah.
Engkau akan selalu merasa
dikejar sesuatu
yang mencemaskan mu,
saat engkau juga merasa
mengejar sesuatu yang tak jelas.
Tegaslah.
Segera lakukan yang harus kau lakukan.
Ketegasanmu menentukan kedamaianmu.
Mario Teguh"
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880
"Ketegasan", itulah topik Mario Teguh Super Point yang saya angkat pada edisi kali ini. Sebuah kata yang mudah diucapkan, tapi kenyataannya sering sulit untuk dilakukan. Apakah dia 'terhalang' oleh adat, kesopanan atau norma-norma lainnya. Tapi, dia harus dilakukan....
Ketegasan memiliki arti penting dalam kehidupan. Seperti kata orang bijak, "Life is about choices"; hidup adalah pilihan. Setiap pilihan memerlukan ketegasan dalam memilih dan melaksanakannya. Soal resiko? Itu sudah biasa; tidak ada satu pekerjaan pun di dunia ini yang bebas dari resiko - masalahnya hanya pada besar atau kecilnya.
Ketegasan memiliki makna kesungguhan atau kemantapan hati yang diiringi dengan perasaan optimis, motivated/inspired sekaligus pengharapan yang besar akan dikabulkan oleh Tuhan. Ketegasan akan melahirkan jiwa-jiwa yang punya semangat yang terus-menerus berkobar untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan dalam usaha. Ketegasan juga akan melahirkan perasaan pantang menyerah dan kerelaan berkorban - apapun itu. Pun ketegasan juga akan membuat seseorang menjadi 'tidak sabaran' - segera bertindak atau berbuat. Now or never!
Tapi, kebanyakan orang cenderung akan 'surut' jika ditimpakan ujian atau cobaan - entahlah itu eksternal maupun internal. Konflik-konflik psikologis seperti ini sering dijadikan 'alasan alias kambing hitam' gagalnya sebuah cita-cita luhur atau mulia. Padahal, ujian atau cobaan itu adalah salah satu 'cara' Tuhan untuk menunjukkan kasih sayang-Nya, seolah-olah Dia berkata "Apa benar engkau menginginkan hal itu?" Jika dia tegas, maka lambat-laun akan tercapai. Masalahnya hanya pada waktu.
Ketegasan adalah pula pemaksa; pemaksa yang punya cita-cita untuk segera bertindak sesuai rencana dan 'alokasi waktu' pencapaian target. Jikalau belum tercapai, semangat akan terus menyala menemukan cara-cara yang lebih baik dan 'mengeksekusinya' dalam perbuatan. Jika sudah berhasil, puji syukur pun akan terlahir dari mulut, hati dan jiwa yang tegas tersebut.
Ketegasan melahirkan kedamaian hati sekaligus 'cadangan semangat yang besar'. Sebaliknya, ketidaktegasan akan membuat wujud 'hantu' yang akan selalu mengejar dan mengusir kedamaian itu dari hati. Ketegasan tidak bertentangan dengan norma apapun. Ketegasan adalah cahaya hati para insan pilihan....
Arif Budiman, S.S.
pada kedamaian hati
dan kebebasan tawa mu,
selama sikap mu dan
yang kau lakukan itu,
lebih kecil daripada cita-citamu.
Selama engkau tak tegas,
engkau akan tetap gelisah.
Engkau akan selalu merasa
dikejar sesuatu
yang mencemaskan mu,
saat engkau juga merasa
mengejar sesuatu yang tak jelas.
Tegaslah.
Segera lakukan yang harus kau lakukan.
Ketegasanmu menentukan kedamaianmu.
Mario Teguh"
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880
"Ketegasan", itulah topik Mario Teguh Super Point yang saya angkat pada edisi kali ini. Sebuah kata yang mudah diucapkan, tapi kenyataannya sering sulit untuk dilakukan. Apakah dia 'terhalang' oleh adat, kesopanan atau norma-norma lainnya. Tapi, dia harus dilakukan....
Ketegasan memiliki arti penting dalam kehidupan. Seperti kata orang bijak, "Life is about choices"; hidup adalah pilihan. Setiap pilihan memerlukan ketegasan dalam memilih dan melaksanakannya. Soal resiko? Itu sudah biasa; tidak ada satu pekerjaan pun di dunia ini yang bebas dari resiko - masalahnya hanya pada besar atau kecilnya.
Ketegasan memiliki makna kesungguhan atau kemantapan hati yang diiringi dengan perasaan optimis, motivated/inspired sekaligus pengharapan yang besar akan dikabulkan oleh Tuhan. Ketegasan akan melahirkan jiwa-jiwa yang punya semangat yang terus-menerus berkobar untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan dalam usaha. Ketegasan juga akan melahirkan perasaan pantang menyerah dan kerelaan berkorban - apapun itu. Pun ketegasan juga akan membuat seseorang menjadi 'tidak sabaran' - segera bertindak atau berbuat. Now or never!
Tapi, kebanyakan orang cenderung akan 'surut' jika ditimpakan ujian atau cobaan - entahlah itu eksternal maupun internal. Konflik-konflik psikologis seperti ini sering dijadikan 'alasan alias kambing hitam' gagalnya sebuah cita-cita luhur atau mulia. Padahal, ujian atau cobaan itu adalah salah satu 'cara' Tuhan untuk menunjukkan kasih sayang-Nya, seolah-olah Dia berkata "Apa benar engkau menginginkan hal itu?" Jika dia tegas, maka lambat-laun akan tercapai. Masalahnya hanya pada waktu.
Ketegasan adalah pula pemaksa; pemaksa yang punya cita-cita untuk segera bertindak sesuai rencana dan 'alokasi waktu' pencapaian target. Jikalau belum tercapai, semangat akan terus menyala menemukan cara-cara yang lebih baik dan 'mengeksekusinya' dalam perbuatan. Jika sudah berhasil, puji syukur pun akan terlahir dari mulut, hati dan jiwa yang tegas tersebut.
Ketegasan melahirkan kedamaian hati sekaligus 'cadangan semangat yang besar'. Sebaliknya, ketidaktegasan akan membuat wujud 'hantu' yang akan selalu mengejar dan mengusir kedamaian itu dari hati. Ketegasan tidak bertentangan dengan norma apapun. Ketegasan adalah cahaya hati para insan pilihan....
Arif Budiman, S.S.
Selasa, 11 Januari 2011
Road to the Dream Come True 01
Jumat, 7 Januari 2011
Aku berangkat ke Duri untuk menghadiri undangan (siriah) baralek gadang (pernikahan) salah seorang dunsanak (keluarga). Kendaraannya sebuah 'mobil operasional' Masjid Tawakkal, Jorong Lurah Ateh Magek. Ramai sekali; full satu kendaraan patas travel ini - 18 orang besar-kecil, tua-muda, pria-wanita.
Perjalanannya sendiri cukup mengesankan, walaupun berangkatnya 'molor' satu jam (08:00 WBBI). Untuk yang pertama kalinya setelah empat tahun lebih berselang 'absen'....! Sayang agak sedikit 'ternoda' gara-gara jalan 'amburadul' di Petapahan.
Jam 17:00. "Kereta pagi" sampai di tujuannya. Agak telat memang; Jumatan dulu di Mesjid At Taqwa Kompleks Batalyon Infanteri 132/Bima Sakti Bangkinang, Riau. Pertama lagi shalat di sana. Setelahnya, acara ramah-tamah dengan sang 'tuan rumah' lalu shalat Ashar dan Maghrib. Next? Pekerjaan paling enak di dunia; mengisi tanki "koto tangah".
Pukul 20:00. Ini dia, acara yang ditunggu-tunggu; apalagi kalau bukan 'baralek'nya. But, wait a minute! Nikahnya belum, Da!
Nah, setelah shalat Isya, it's the time for the show! Diawali dengan 'pengajian' dengan topik seputar pernikahan lalu diteruskan dengan 'acara inti' oleh Pak KUA. Well, 'prosesinya' sangat mengesankan - ada lawakannya lagi. But, in general, prosedurnya sama (mungkin) dengan yang biasa (baca: versi "SOP")
Kesimpulan:
Hari ini, aku diberi 'kesempatan emas' oleh Tuhan untuk pertama kalinya menjadi eyewitness prosesi akad nikah - sesuatu yang selama ini sangat kudambakan. Apa yang harus dilakukan, apa yang harus dibaca, urutan acaranya - semuanya! Dan, kuanggap ini sebagai 'pelengkap pengalaman berharga' karena dua minggu sebelumnya di kampung, aku 'ikut serta' dalam acara 'basutando + manantui hari'. Yang jelas, dua-duanya sama: milik orang lain!
Yah..., kapan aku bisa mengalami kedua hal yang membahagiakan itu? Iri sekali aku melihat kedua mempelai 'mesra sekali' hari ini. Gila! Imajinasi itu datang lagi - dan itu membuatku tersenyum seorang diri. 'Celakanya' lagi, apakah 'gadis impianku' semuanya Bunga Larangan - sesuatu perasaan yang kurasakan saat memasuki kota ini kembali? Belum berakhirkah?
Krakatau Camp, Caltex Duri
PS: Salam sayang buat "Si Merah-ku"; I miss u, babe!
Aku berangkat ke Duri untuk menghadiri undangan (siriah) baralek gadang (pernikahan) salah seorang dunsanak (keluarga). Kendaraannya sebuah 'mobil operasional' Masjid Tawakkal, Jorong Lurah Ateh Magek. Ramai sekali; full satu kendaraan patas travel ini - 18 orang besar-kecil, tua-muda, pria-wanita.
Perjalanannya sendiri cukup mengesankan, walaupun berangkatnya 'molor' satu jam (08:00 WBBI). Untuk yang pertama kalinya setelah empat tahun lebih berselang 'absen'....! Sayang agak sedikit 'ternoda' gara-gara jalan 'amburadul' di Petapahan.
Jam 17:00. "Kereta pagi" sampai di tujuannya. Agak telat memang; Jumatan dulu di Mesjid At Taqwa Kompleks Batalyon Infanteri 132/Bima Sakti Bangkinang, Riau. Pertama lagi shalat di sana. Setelahnya, acara ramah-tamah dengan sang 'tuan rumah' lalu shalat Ashar dan Maghrib. Next? Pekerjaan paling enak di dunia; mengisi tanki "koto tangah".
Pukul 20:00. Ini dia, acara yang ditunggu-tunggu; apalagi kalau bukan 'baralek'nya. But, wait a minute! Nikahnya belum, Da!
Nah, setelah shalat Isya, it's the time for the show! Diawali dengan 'pengajian' dengan topik seputar pernikahan lalu diteruskan dengan 'acara inti' oleh Pak KUA. Well, 'prosesinya' sangat mengesankan - ada lawakannya lagi. But, in general, prosedurnya sama (mungkin) dengan yang biasa (baca: versi "SOP")
Kesimpulan:
Hari ini, aku diberi 'kesempatan emas' oleh Tuhan untuk pertama kalinya menjadi eyewitness prosesi akad nikah - sesuatu yang selama ini sangat kudambakan. Apa yang harus dilakukan, apa yang harus dibaca, urutan acaranya - semuanya! Dan, kuanggap ini sebagai 'pelengkap pengalaman berharga' karena dua minggu sebelumnya di kampung, aku 'ikut serta' dalam acara 'basutando + manantui hari'. Yang jelas, dua-duanya sama: milik orang lain!
Yah..., kapan aku bisa mengalami kedua hal yang membahagiakan itu? Iri sekali aku melihat kedua mempelai 'mesra sekali' hari ini. Gila! Imajinasi itu datang lagi - dan itu membuatku tersenyum seorang diri. 'Celakanya' lagi, apakah 'gadis impianku' semuanya Bunga Larangan - sesuatu perasaan yang kurasakan saat memasuki kota ini kembali? Belum berakhirkah?
Krakatau Camp, Caltex Duri
PS: Salam sayang buat "Si Merah-ku"; I miss u, babe!
Langganan:
Postingan (Atom)

