Jumat, 25 Februari 2011

Mario Teguh Super Point 21 - "The Paradox"

"PARADOX nasehat.

Untuk yang takut salah:

Kita diharuskan untuk berhasil,
maka kesalahan adalah hak,
yaitu pilihan kemungkinan yang logis
yang kita temui dalam perjalanan
mencapai keberhasilan.

Untuk yang takut mencoba:

Tugas kita bukan untuk berhasil,
tapi untuk mencoba.
Karena di dalam mencoba itulah
kita belajar dan menemukan
kesempatan untuk berhasil.

Untuk semua:

Orang yang berhasil adalah orang baik."

 

"Paradoks adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian; dasar pemikiran; alasan; (2) asumsi; (3) kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dalam logika) yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan tiba pada suatu konflik atau kontradiksi." (Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Paradoks)

"Paradoks"; kata ini, mungkin kita sudah kenal - setidaknya pernah mendengar. Terdengar memang 'aneh' dan sedikit 'nyentrik'; khas bahasa orang-orang Eropa. Dalam bahasa Indonesia, kata ini tidak memiliki padanan yang 'seimbang'; jadi diambil langsung dengan penyesuaian tulisan berdasarkan pelafalannya. 

Dalam kata "paradoks", tersembunyi banyak misteri. Salah satunya adalah misteri 'makna' atau kesimpulan. Makna atau kesimpulan yang 'dihasilkan' tidak satu, tapi beraneka ragam tergantung yang menarik kesimpulan atau maknanya. Dan, makna atau kesimpulan tersebut bisa 'denotatif', bisa pula 'konotatif'. Premis-premis-nya (sering) bertentangan satu sama lain, 'menuntut' orang berfikir bak seorang filsuf.

Tapi terkadang, definisi di atas tidak sepenuhnya benar. Dalam sebuah "paradoks" bertema "nasehat" misalnya, premis-premisnya saling berhubungan yang menciptakan koneksi 'hirarki' tertentu; walaupun di dalamnya ada premis-premis bernilai 'konotatif' atau berseberangan. Pelibatan premis-premis 'konotatif' ini bertujuan untuk mempertegas maksud serta 'target' nasehat. Premis-premis 'konotatif' ini pula juga sebagai 'pedoman' atau 'solusi cara' yang bisa ditempuh. Contohnya adalah sebagai berikut:

"Keberhasilan adalah hak semua orang; kesalahan juga hak semua orang untuk menggapai keberhasilan. Meskipun keberhasilan bukanlah 'harga mati' setiap usaha atau perjuangan, tapi 'kewajiban' insani adalah 'menyempurnakan' penyobaan-penyobaan. Dan, jika keberhasilan itu diperoleh, maka keberhasilan itu akan membaikkan orang yang mendapatkan; jika kegagalan yang diperoleh, maka kegagalan itu akan mengkayakan orang yang mendapatkan. Jadi, tidak ada yang terbuang percuma dari sebuah paradoks, apalagi paradoks nasehat bijak keberhasilan...."








Arif Budiman, S.S. 


Rabu, 23 Februari 2011

Mario Teguh Super Point 20 - "Flying Without Wings"

"Engkau yang selalu mengatakan,

Memang mudah dikatakan,
tapi prakteknya susah!
dengarlah ini

Bukankah engkau ingin menjadi
orang besar yang damai, kaya, dan
terhormat di masa depanmu nanti?

Maka janganlah membiarkan
bayi baik yang dilahirkan oleh Ibumu itu
menjadi pemimpi besar yang malas,
suka mengkritik tapi mudah tersinggung,
dan
bertanya untuk membantah jawabannya.

Janganlah mempersulit bantuan."


Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880


"Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra negri
Bertingkah laku halus hai putra negri"
(A. Simanjuntak "Bangun Pemudi Pemuda") 

 
Kehidupan manusia di alam ibarat air yang mengalir di sungai; mengalir tanpa henti sesuai dengan 'pola' tertentu yang telah ditetapkan. Dia bermula dari tetesan-tetesan yang bersih lagi jernih yang muncul ke permukaan bumi. Tujuan dia diciptakan adalah sebagai rahmat bagi semesta alam sekaligus pemimpin dan guardian (pelindung) semua makhluk lain. Jika tetesan-tetesan rahmat itu tidak ada, buat apakah alam semesta ini diciptakan? Atas nama cinta dan kasih sayang-lah, semuanya diciptakan.

Dan, bagaimana dengan makhluk bernama manusia itu sendiri? Mereka-mereka yang lahir ke alam ini sesungguhnya adalah barisan kampiun. Mereka-lah makhluk-makhluk terpilih agar semua irama dan ritme perjalanan alam semesta yang menembus ruang dan waktu menjadi lebih 'bermakna' dan 'beraneka warna' serta abadi selamanya. Mereka adalah "Garda Republik Kerajaan Tuhan di Bumi"; mereka selalu penuh semangat dengan jujur dan ikhlas, yang tidak akan pernah menyerah dan berputus pengharapan - bahkan di saat mereka tidak mampu sekalipun. "A champion is someone who gets up even when they can't (= Juara sejati adalah dia yang tetap bangun dan optimis meski dia sebenarnya tidak bisa").

Lalu, bagaimana dengan barisan kampiun yang 'harus' berkata bahwa "mudah dikatakan, tapi susah dipraktekkan"? Ketahuilah, mereka sedang rapuh - suka mengkritik, malas, mudah naik pitam dan sebagainya; mereka laiknya bak macan yang kehilangan taringnya. Mereka lupa bahwa mereka adalah kampiun. Bukankah mereka menginginkan segala hal "ter-" - terpandang, terkaya, terkenal, termasyur, terbaik, tertinggi, terkuat dan sebagainya?

Berada dalam kondisi 'rapuh' memang sangat manusiawi; semua 'kampiun' itu pernah merasakannya. Perasaan jadi campur-aduk disertai dengan emosi yang makin memuncak akibat kegagalan-kegagalan, kekecewaan-kekecewaan bahkan sampai pada tingkat yang terbilang ekstrim; kehilangan kepercayaan terhadap sesuatu - yang dicita-citakan untuk digapai. Memang sangat tidak enak, sungguh!

"Kepercayaan akan datangnya bala bantuan Tuhan; jujur, ikhlas dan tetap dalam jalur yang lurus dalam doa, usaha dan tawakal merupakan kunci-kunci pembuka datangnya kebahagiaan sebenarnya. Jika 'tangan-tangan tak terlihat' Tuhan melambaikan bantuan telah tiba, tak ada satu kekuatan pun yang bisa menghalangi apalagi mencegah. Setelahnya, Engkau akan seperti burung yang terbang tanpa sayap....; flying without wings...."







Arif Budiman, S.S. 

Selasa, 22 Februari 2011

Mario Teguh Super Point 19 - Antara Uang dan Karir

"Orang yang hanya mencari uang,
biasanya tidak memperhatikan kualitas karir.

Tapi,
orang yang berfokus pada membangun karir
akan membuktikan bahwa ternyata
uang itu menempel pada kualitas.

Orang yang berkualitas kehidupan keluarganya,
yang berkualitas karirnya,
dan yang berkualitas kontribusinya
bagi kebaikan sesama,
akan dikayakan bukan hanya dengan harta,
tapi juga dengan penghormatan dari sekitarnya."


Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880


Siapa yang tak ingin uang? Siapa yang tak ingin kaya? Semua orang ingin punya uang; uang yang sangat amat banyak (menghias angkasa....; eh, bukan uang, tapi 'bintang kecil'). Dengan uang, orang bisa beli apapun; rumah, mobil bahkan pesawat jet pribadi. Pokoknya, orang akan bisa 'bahagia' dengan banyak uang. Tidaklah mengherankan bila semua orang sibuk mencari uang; dari pagi hingga malam bahkan pagi lagi. Karena uang pulalah, banyak yang mencari 'jalan pintas'; korupsi, merampok, membunuh, menjual narkoba dan sebagainya. Bagi mereka ada satu prinsip: "Money is everything".

Uang memang bisa membeli sesuatu; bahkan (hampir) segala sesuatu. Tapi, uang bukanlah segalanya. Masih ada beberapa hal yang nilainya tak mampu dibeli dengan uang sebanyak apapun. Salah satunya adalah penghormatan akan kualitas diri. Celakanya, justru inilah yang (semakin) banyak dilupakan orang. Asal uang didapat, yang lain bolehlah lewat. Tak peduli; walau nanti hidupnya bakal 'dilaknat'! Segala potensi dan energi hanya fokus pada pencarian uang semata yang sangat sering mengorbankan kodrat manusia sesungguhnya!

Memang dalam membangun "penghormatan akan kualitas diri" membutuhkan 'biaya' tersendiri - dan biaya itu adalah uang. Semuanya memang perlu uang; bahkan untuk pendidikan yang jauh lebih tinggi. Itu sudah hukum alam! Tapi bukan itu maksudnya! Membangun "penghormatan akan kualitas diri" maksudnya mendayagunakan semua potensi yang ada - termasuk uang - untuk meningkatkan kualitas pengetahuan, perasaan, pikiran, tindakan, kesabaran dan penerimaan diri terhadap hasil/realita dalam suatu proses berdimensi ruang dan waktu sehingga tercapai tingkat tertinggi; entah itu dalam kehidupan sehari-hari atau dalam karir. Biasanya, orang-orang seperti ini akan sangat enerjik dan highly inspired and motivated to be better and better everytime, everywhere. Jika ini yang dijadikan visi dan misi dalam falsafah atau moto hidup, maka pendapat sebagian besar orang akan posisi uang akan 'bergeser' ke arah yang lebih baik; uang bukanlah tujuan, tapi alat untuk mencapai tujuan 'sebenarnya' - bahagia di dunia dan akhirat.

So:
"Memperbaiki kualitas diri memang membutuhkan uang yang terkadang jumlahnya tak terbayangkan oleh 'logika matematika kemampuan ekonomi' semata; dia adalah investasi jangka panjang yang 'keuntungan' atau profit-nya akan Anda dapatkan kelak di masa depan. Anggap saja uang Anda itu adalah investasi dan Anda 'bermain' dalam sebuah 'pasar saham atau pasar modal sendiri'. Bedanya, Anda tidak akan pernah rugi; kalaupun keuntungannya tidak Anda dapatkan, orang lain yang mendapatkan akan 'membalas' dengan cara lain dan Tuhan akan mengizinkan 'pembalasan' itu dengan cara atau jalan yang tak diduga-duga. Jadi, berfokuslah pada upaya sistematis dan terencana untuk meningkatkan kualitas pribadi dan hidup Anda, lalu perhatikan apa yang terjadi...."







Arif Budiman, S.S.

Sabtu, 19 Februari 2011

Mario Teguh Super Point 18 - Kebahagiaan vs Prasangka

"Engkau bertanya kepadaku,
mengapakah sulit bagimu
menemukan kebahagiaan.

Ini yang mungkin
bisa kau pertimbangkan,

Berfokuslah untuk mengisi hati
dan pikiranmu dengan kebaikan.

Janganlah engkau
menjadikan hati dan pikiranmu
sebagai pelabuhan bagi
prasangka buruk dan siasat keji.

Prasangka dan siasat itu
merampok waktumu
dan menjadikan
hari-hari kerjamu pendek
dan malam-malammu panjang
tanpa tidur."


Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880


Siapa yang tak pernah berprasangka? Prasangka - apakah itu baik atau buruk - seringkali menjadi salah satu dasar diambilnya satu keputusan. Atas dasar prasangka pula, dunia bisa berubah, peradaban berubah ke arah yang lebih baik atau (yang lebih sering) kehancuran. Lihatlah Perang Dunia I dan II yang 'pemicunya' tak lebih dari sekadar prasangka - prasangka buruk tentunya! Apa yang terjadi kemudian sungguh sangat mengerikan; jutaan orang tak berdosa harus meregang nyawa, peradaban manusia yang telah dibangun ratusan bahkan ribuan tahun binasa dan harkat-martabat manusia sebagai sebaik-baik makhluk ciptaan-Nya 'terjun bebas' menjadi sub-human - binatang. Semuanya, sekali lagi, bermula dari prasangka!

Tuhan telah membekali setiap manusia yang 'beruntung' lahir ke dunia dengan tiga 'senjata' utama; hati, akal dan nafsu. "Akal" berfungsi menerangi jalan dan 'membimbing' nafsu ke jalan yang baik dan lurus; sedangkan "nafsu", berfungsi sebagai 'bahan bakar nuklir-nya' hidup dalam menggapai setiap cita-cita atau keinginan. Sementara itu, "hati" berfungsi sebagai 'penengah' konflik antara akal dan nafsu. Insan pilihan atau terbaik adalah yang mampu menjadikan hatinya sebagai raja, akalnya sebagai panglima dan nafsunya sebagai budak. Sebaliknya, insan terkutuk adalah yang menjadikan nafsunya sebagai raja sehingga akal dan hatinya menjadi buta. Untuk lebih jelasnya, silahkan buka link berikut: http://kawansejati.ee.itb.ac.id/book/export/html/15061.

Di atas saya menyebutkan bahwa manusia yang lahir ke dunia adalah manusia 'beruntung'. Kenapa beruntung? Saudara-saudara, coba bukalah kembali pelajaran biologi bab reproduksi yang pernah kita pelajari semasa SMA. Pada saat terjadi konsepsi (pembuahan), jutaan - bahkan milyaran - sperma akan berenang menuju saluran tuba fallopii untuk membuahi satu-satunya sel telur. Dalam perjalanannya itu, semua sperma harus 'berjuang antara hidup-dan-mati' atau 'bersaing secara sengit'. Dan, hanya ada satu pemenang; sperma yang mampu 'bertahan' dan akhirnya membuahi sang telur! Tak akan ada sperma lain yang akan masuk karena membran pelindung sel telur akan segera mengeras. Jadi apa kesimpulannya? Setiap manusia yang lahir ke dunia adalah KAMPIUN. Dan tahukah Anda bahwa seringkali seorang 'kampiun' lahir akibat ketiadaan 'jalan lain'? Dia akan sangat termotivasi; segala ketakutan berubah menjadi keberanian yang meledak-ledak hingga mampu membuat keajaiban-keajaiban. Berkenaan dengan hal ini, Sun Tzu, seorang jenderal besar Cina Kuno, ahli strategi dan penulis Kitab "Seni Berperang (The Art of War)" pernah berkata "The good fighters of old first put themselves beyond the possibility of defeat, and then waited for an opportunity of defeating the enemy (= Prajurit yang baik adalah yang membuat diri mereka berada dalam kemungkinan untuk kalah, lalu menunggu kesempatan mengalahkan musuh")* Dalam sejarah, ada banyak tokoh yang telah membuktikan strategi ini; salah satunya adalah Panglima Thariq bin Ziyad - Taric el Tuerto - sang Penakluk Andalusia. **

Kembali ke quote Bapak Mario Teguh di atas, intinya adalah membiarkan segala kebaikan merasuki segenap jiwa, akal dan nafsu kita. Efeknya akan langsung terasa; jiwa menjadi tenang, hati menjadi lapang, pikiran menjadi melayang terbang menembus awang-awang dan nafsu 'terkekang' dalam rentang sehingga kebahagiaan akan teretas datang. Hati adalah cermin jiwa; maka jagalah dia sebaik-baiknya:

"Jaga.. Jaga... Jaga... Jaga... Jagalah hatimu
Jangan... Jangan... Jangan biarkan kotori hatimu

Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati cahaya illahi

Bila hati kian bersih, pikiran pun kian jernih
Semangat hidup kan gigih, prestasi mudah diraih
Namun bila hati busuk, pikiran jahat merasuk
Akhlak kian terpuruk, jadi mahluk terkutuk

Bila hati kian suci, tak ada yang tersakiti
Pribadi menawan hati, ciri mukmin sejati
Namun bila hati keruh, batin selalu gemuruh
Seakan dikejar musuh, dengan Allah kian jauh

Bila hati kian lapang, hidup sempit tetap senang
Walau kesulitan datang, dihadapi dengan tenang
Tapi bila hati sempit, segalanya makin rumit
Seakan hidup terhimpit, lahir batin terasa sakit"









Arif Budiman, S.S.

 

Jumat, 18 Februari 2011

Mario Teguh Super Point 17 - Kedamaian Hati

"Engkau tak akan sampai
pada kedamaian hati
dan kebebasan tawa mu,
selama sikap mu dan
yang kau lakukan itu,
lebih kecil daripada cita-citamu.

Selama engkau tak tegas,
engkau akan tetap gelisah.

Engkau akan selalu merasa
dikejar sesuatu
yang mencemaskan mu,
saat engkau juga merasa
mengejar sesuatu yang tak jelas.

Tegaslah.

Segera lakukan yang harus kau lakukan.

Ketegasanmu menentukan kedamaianmu." 


Mario Teguh
http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880

"Di balik senyumku 
Aku menangis pilu
Dalam ruang jiwaku
Ada denyut kekosongan
Mengiris hatiku
Mengikis keyakinanku
Tentang cinta

Chorus:
Di dalam kesunyian aku rindukan
Kehadiranmu memelukku membelai syahdu
Oh Tuhan sampai kapan harus kucari
Kedamaian hati mewarnai hidupku

Di genggam tanganku
Ada sebongkah permata
Namun duri di hati
Sungguh perih tak tertahan
Menusuk hatiku
Runtuhkan keangkuhanku
Selama ini

Chorus:
Menusuk hatiku
Runtuhkan keangkuhanku

Chorus:
Oh..
Yang aku rindukan
Kedamaian hati

(Ari Lasso "Kedamaian Hati" http://lirik.kapanlagi.com/artis/ari_lasso/kedamaian_hati)

Sebuah tembang dari Ari Lasso membuka bahasan kita tentang suatu frase 'menggelitik' nan 'ideal'; kedamaian hati. Siapa yang tak mau hatinya damai, bahagia dan tak kurang suatu apa? Tidak ada! Semua manusia ingin damai; dengan kedamaian dia bisa melakukan segala hal yang 'seharusnya dia lakukan' bahkan 'yang dulunya mustahil' sekalipun! Dengan kedamaian yang dia miliki, apa-apa yang dilakukannya akan membuahkan prestasi-prestasi luar biasa yang tentu saja akan memuliakan diri dan kehidupannya beserta diri dan kehidupan orang-orang di sekitarnya; keluarganya - istri/suami dan anak-anaknya. Dengan kedamaian yang dimilikinya, hidupnya begitu lapang dan tawanya begitu lepas tanpa beban; tak ada yang perlu dia risaukan walaupun (harus) berkekurangan harta. 

Hati yang damai juga akan membuat alam pikirannya extended very rapidly; bak memuainya alam semesta dengan kecepatan sebesar 72 km/detik* - bahkan bisa jauh lebih cepat dari itu. "Kedamaian layaknya kebahagiaan hanya bisa dirasakan di hati". Sebuah peribahasa bernuansa semangat yang lain menyebutkan "Kedamaian hati adalah kedamaian sejati".** Mungkin inilah yang menjadi alasan mengapa orang-orang yang sudah 'menemukan dan larut dalam kedamaian hatinya' mampu mengukir sejarah agung peradaban umat manusia dengan torehan tinta emas. Tak lekang dimakan zaman!

Sekarang timbul sebuah pertanyaan; bagaimana cara menggapai "kedamaian hati" tersebut? Mungkin akan melahirkan begitu banyak 'versi' jawabannya; tergantung dari pengalaman hidup orang perorang. Namun secara keseluruhan, "kedamaian hati" membutuhkan satu sikap penting; perubahan atau hijrah. "Hijrah" dari segala sesuatu yang menghalangi tergapainya "kedamaian hati" yang dimaksud; sikap, pikiran, perbuatan, sudut pandang, 'penerimaan' yang lebih kecil dari cita-cita "kedamaian hati". Karena "kedamaian hati" adalah "cita-cita agung", maka agungkan/besarkanlah sikap, pikiran, perbuatan, sudut pandang dan 'penerimaan' diri Anda! "Kedamaian hati" akan terjadi bila Anda mampu membuat segala yang Anda miliki melejit dengan seimbang (balance).

Melejitkan segala yang Anda miliki membutuhkan suatu sikap lain, yaitu ketegasan. Artinya, Anda memiliki semangat berkomitmen tinggi dalam melakukan hijrah. Ketegasan akan meneguhkan hati dan mengeleminir segala bentuk kegelisahan dan kecemasan hingga pada titik nadir. Ketegasan juga akan membuat Anda fokus; tidak menghabiskan begitu banyak energi pada hal-hal yang 'tidak jelas'. Ketegasan akan mendorong Anda melakukan apa yang harus Anda lakukan dan bisa lakukan 'mulai detik ini'; tanpa perlu terlalu memikirkan apa yang akan terjadi besok pagi. Ketegasan Anda akan menentukan kedamaian hati Anda.
   
So:
"Ketegasan Anda dalam menjalankan cita-cita dengan segera dengan segala sesuatu yang Anda bisa akan membuat bibit-bibit kedamaian hati Anda tersemai di seantero alam semesta dan jagad raya - Anda sudah bahagia sebelum tercapainya cita-cita. Dalam perjalanannya akan Anda temukan begitu banyak hal-hal baru yang membuat Anda berkata 'oh ya?' - seolah-olah Anda adalah 'orang baru' setiap waktu; beginner's luck. Dan, perhatikan saja apa yang akan terjadi...."







Arif Budiman, S.S.
* http://tech.groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia/message/2735
** http://www.resensi.net/kedamaian-hati-adalah-kedamaian-sejati/2008/11/

Senin, 14 Februari 2011

Mario Teguh Super Point 16 - Antara Keinginan dan Kemampuan

"Sesungguhnya,

Bukan keinginan yang
menjadi sumber penderitaan,
tetapi ketidak-mampuan.

Tertahannya keinginan
untuk mencapai kebaikan
adalah pemberitahuan untuk
memperbaiki kemampuan.

Orang yang sedang tidak mampu,
harus bekerja dengan giat
di dalam doanya,
agar dia dirahmati dengan rezeki
yang akan memampukannya.

Hormatilah keinginan Anda,
agar ia menghebatkan upaya Anda
dalam membangun kemampuan."


Mario Teguh
(Facebook)

Pada postingan Mario Teguh Super Point 15, saya sudah membahas posisi penting "keinginan" dalam kehidupan seorang manusia. Inti sari dari pembahasan tersebut adalah bahwa "keinginan" adalah roh-nya perbuatan, titik pangkal segala peristiwa. Dalam postingan kali ini, saya akan membahas "teman akrab keinginan", yaitu "kemampuan".

Seperti yang telah kita ketahui, "keinginan" akan menumbuhkan sugesti, semangat yang berkobar-kobar untuk menggapainya; semakin besar "keinginan" itu maka sugesti yang ditimbulkannya akan semakin besar pula. "Keinginan" tumbuh akibat yang memilikinya 'tidak punya' atau 'tidak memiliki' - atau secara halus 'belum memiliki'. Sebagai contoh, Anda "ingin" menjadi seorang penulis besar seperti Andrea Hirata, J.K. Rowling atau bahkan Mark Twain. Atau, "ingin" menjadi sesuatu yang jauh lebih besar; menjadi seorang presiden sebuah negara besar yang kuat. Setiap saat dan setiap waktu, Anda "membayangkan" dalam imaji Anda betapa 'enaknya' menjadi seorang seperti Andrea Hirata, J.K. Rowling, Mark Twain atau bahkan Barrack Hussain Obama; ya..., punya nama yang terkenal seantero negeri, punya banyak uang, punya banyak 'pemuja' dan seterusnya. Jika Anda memiliki ini, bagus sekali!

Tapi, itu tidaklah cukup. Anda harus berusaha, berdoa dengan ikhlas, sepenuh hati dan yakin; sesegera mungkin. Akan lebih baik jika Anda 'memiliki' bakat atau kemampuan dalam menulis atau politik sehingga jalan yang akan Anda tempuh menjadi lebih 'mudah'. Biasanya, orang akan cenderung 'bersemangat' dan 'senang' kalau dia memang memiliki bakat di bidang yang ingin dicapai prestasi luar biasanya - apakah berbentuk hobi atau semacamnya. Anda harus memiliki planning dalam hitungan waktu yang 'spesifik' serta target yang hendak dicapai. Dan, yang paling penting adalah komitmen dan konsistensi.

Dan selama proses tersebut, Anda mungkin sering harus 'berjibaku', jatuh bangun. Tak apa; syukuri saja karena hal itu lumrah. "Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda". "Kegagalan" walaupun menunjukkan "ketidak-mampuan" Anda - yang tentu saja akan membuat Anda menderita, patah semangat bahkan putus pengharapan, sebenarnya adalah semacam 'warning' atau 'pemberitahuan' dari Dzat Yang Maha Kasih supaya Anda memperbaiki cara-cara yang Anda tempuh sekaligus memperbaiki dan 'menyempurnakan' kemampuan yang Anda miliki. Secara umum, memperbaiki kualitas pribadi Anda agar 'pantas diberhasilkan'. Jadi, "kemampuan" adalah kualitas yang dibangun sebagai akibat langsung dari timbulnya suatu "keinginan". Yakinlah, suatu saat nanti Anda akan menikmati hasil perjuangan Anda yang 'manisnya' bahkan lebih 'manis' daripada yang pernah Anda bayangkan. Jikapun tidak, orang lain akan melakukannya untuk Anda - menghormati Anda dan menuliskan nama Anda dengan tinta emas peradaban umat manusia.

"Keputusan terletak di tangan Anda; Tuhan yang akan mengizinkannya sekaligus menyempurnakannya"

So?
"Tidak ada jarak antara keinginan dan kemampuan; keduanya adalah komplementer dan satu kesatuan utuh. Keinginan meningkatkan kualitas kemampuan sementara kemampuan menumbuhkan keinginan yang lebih besar."
Arif Budiman, S.S.

Mario Teguh Super Point 15 - Keinginan

"Keinginan adalah tenaga
bagi upaya untuk keluar
dari kekurangan.

Maka hindarilah melarang anak kita
dari menginginkan sesuatu
dengan alasan tidak ada uang.

Mereka akan tumbuh
menjadi orang dewasa
yang jika kekurangan,
tidak berani menginginkan.

Dan karena tidak ingin apa-apa,
mereka tidak berupaya.

Itu sebabnya
kita sering melihat orang
yang sedang kekurangan,
justru berlemah hati
dan takut mencoba."


Mario Teguh
(Facebook)

"Keinginan" tidak sama dengan "kebutuhan". "Kebutuhan" adalah segala sesuatu yang 'wajib' ada agar hidup dapat berlangsung dengan baik dan lancar. "Keinginan" adalah segala sesuatu yang 'tidak mutlak'; hanya dipenuhi jika "kebutuhan" telah diperoleh. Setidaknya, itulah definisi secara singkat.

Namun, "keinginan" memiliki ciri khasnya tersendiri. "Keinginan" sering ditafsirkan sebagai "kemauan" atau "cita-cita". Kata orang bijak; "Dimana ada kemauan di situ ada jalan". "Keinginan" atau "kemauan" adalah 'perintis', pembuka jalan bagi dilakukannya sesuatu. Berangkat dari sebuah keinginan, orang akan berusaha untuk mewujudkannya. Dari sebuah keinginan pulalah, harapan itu muncul dan tumbuh bak cendawan di musim hujan. Rentetan berikutnya dapat dipastikan adalah doa, ikhtiar dengan pengorbanan dan penerimaan hasil. Dan, dari kata "keinginan" pula lahirlah bayangan-bayangan indah di masa datang yang sering disebut sebagai "imajinasi" atau "khayalan" yang akan menimbulkan semangat, motivasi dan sugesti di pikiran yang memilikinya.

Energi "keinginan" begitu luar biasa; dia adalah 'energi potensial' bagi yang memiliki agar sesegera mungkin 'keluar' dari 'kekurangan' yang sedang dialami. Ya..., semangat untuk merubah nasib; energi positif yang timbul dari dalam diri pribadi. "Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum (pribadi) jika dia tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri." Apa artinya? Artinya, manusialah yang menentukan - apakah ingin 'berubah nasib' atau 'tidak'; sementara Tuhan yang 'mengizinkannya'.

Akan tetapi, dalam masyarakat sering sekali kita temui adanya upaya-upaya 'pelemahan diri' yang datang dari luar diri "pengingin" yang 'melarang' mereka untuk mempunyai 'keinginan'. Alasannya bermacam-macam; salah satunya karena tidak memiliki uang. Padahal, uang bukanlah segalanya; bukan pula satu-satunya cara agar keinginan tersebut bisa 'diperoleh'. Selalu akan ada jalan - yang sebagian besar tidak disangka-sangka - yang datang dari 'langit dan bumi' bila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan niat yang baik. Kuncinya hanya satu: KESABARAN.

"Kesabaran" akan membimbing kita untuk selalu ikhlas dalam mencoba, berusaha, berdoa, menerima hasil 'sementara' dan yang paling penting tetap memelihara 'keinginan' dengan sebaik-baiknya dalam diri dalam keadaan hati yang kuat bagaikan seonggok adamantium (logam terkuat di dunia). Hanya masalah waktu kapan "keinginan" tersebut akan 'tercapai'. "Kesabaran" pula yang akan mensugesti kita untuk selalu dekat dengan Yang Maha Memberi dan tetap berbuat kebaikan. Dan, ujian akan datang silih berganti menerpa. Bagi orang-orang yang ikhlas dan teguh, ujian-ujian itu hanya 'cara Tuhan memperlakukan hamba-Nya dengan penuh kasih sayang"; Beliau mempersiapkan pribadi-pribadi pilihan-Nya untuk pantas mendapatkan "keinginan" tersebut dengan segala pertimbangan dan konsekuensi yang sepenuhnya bermuara pada kemaslahatan mereka. "Baalam laweh bahati lapang" - begitulah mereka 'dibesarkan'. Sering sekali apa yang akhirnya 'didapat' jauh lebih baik dari apa yang pertama kali ataupun yang pernah "diinginkan".


Jadi:
"Jangan pernah takut untuk memiliki keinginan; apapun itu. Memiliki keinginan adalah salah satu anugerah Tuhan yang terbesar - seperti halnya mimpi. Nikmatilah proses menuju 'pengabulan' keinginan itu karena kita akan 'didewasakan' sejalan dengan beriringnya ruang, waktu dan peristiwa-peristiwa di dalamnya; kita akan menjadi 'beraneka warna'. Orang yang tidak mempunyai keinginan adalah orang yang paling malang sedunia - mereka sebenarnya telah 'mati' dalam 'hidup'. Oleh karena itu, berdoalah agar kita terhindar dari kondisi seperti ini." 








Arif Budiman, S.S.