Rabu, 24 Agustus 2011

Belajar dari Kesalahan

"Orang yang mengeluhkan
kesalahan yang sama,
pasti karena tidak belajar
dari kesulitan yang disebabkan
oleh kesalahan yang sudah sering dibuatnya.

Melakukan kesalahan
pada tingkat yang tinggi,
bisa lebih mulia daripada
tidak melakukan kesalahan
dalam kehidupan kecil
yang penuh kekhawatiran.

Hidup ini untuk mencapai kebenaran,
dengan keberanian untuk menghadapi kesalahan,
dan tumbuh karenanya."


Mario Teguh


Mengeluh...; salah satu tabiat alami makhluk bernama manusia. Mengeluh...; tentang apa-apa yang dirasa tidak mengenakkan dan menyejukkan. Mengeluh...; tentang apa-apa yang dirasakan begitu membebani dan melelahkan. Mengeluh...; tentang apa-apa yang dirasa 'mustahil' untuk dilakukan dan diwujudkan....

Setiap orang pasti pernah mengeluh; entah sengaja atau tidak. Entah karena 'keadaan' atau karena memang tidak mampu. Mengeluh adalah satu cara ampuh untuk menunjukkan ketidakberdayaan diri dan mengharapkan welas asih orang lain. Namun mengeluh punya efek lain - jika benar-benar diperspektifkan dan diberdayakan dalam artian yang positif; belajar dan belajar untuk tumbuh bersama kesalahan dan kegagalan.

"Belajar" dan "mengeluh" memang dua kata yang sangat kontra. Satu menunjukkan makna semangat yang tinggi untuk terus berkarya dan mengembangkan diri; sementara yang satunya lagi mematahkan semangat untuk tetap berkarya dan berharap. Keduanya ada dalam diri setiap manusia. Berbuat kesalahan? Ya, memang manusia tak pernah terlepas dari hal itu.

Seseorang tidak akan mungkin bisa menjadi 'ahli' dalam suatu bidang tanpa belajar. Sebelum belajar, dia sadar dan tahu betul kalau dia masih 'hijau'; dia pun mengeluhkan hal itu. Dia segera berencana, melaksanakan, merasakan, berharap dan berfikir tentang hal-hal besar - seperti seorang expert. Dia menemukan begitu banyak keajaiban di sana; entah darimana datangnya - bahkan hal-hal yang tidak pernah terlintas di alam pikirannya selama ini. Dia merasakan kebahagiaan dan semangat. Namun pada sisi lain, ada begitu banyak rintangan dan halangan hingga membuatnya 'perlu' sedikit 'mengeluh' untuk kembali termotivasi. Pada akhirnya nanti, dia yakin akan berhasil; cepat atau lambat.

Ilustrasi di atas kelihatannya begitu 'klasik'; tidak sepenuhnya begitu. Melakukan kesalahan pada tingkat tinggi pada hakikatnya memang bisa lebih mulia dan memuliakan daripada hanya diam dan berpangku tangan; terpaku pada kehidupan kecil yang penuh diselimuti awan kekhawatiran. Anak-anak muda - dan berjiwa muda - pantang sekali akan hal ini. Mereka suka berbuat kesalahan dan tumbuh bersamanya....



Arif Budiman, S.S.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar