Selasa, 27 September 2011

Nikmatnya Kejujuran

"Kejujuran ibarat orang minum jamu; pahit dan getirnya hanya sebatas kerongkongan. Setelah itu, yang terasa adalah semangat hidup akan menyala-nyala. Sebaliknya, kebohongan ibarat orang minum sirup; manis dan nikmatnya hanya sebatas bibir dan kerongkongan. Setelahnya, yang terasa hanyalah panas sariawan saja...." 
 (Arif Budiman, S.S.; February 02, 2011)


Kejujuran dan kebohongan; dua kata yang saling bertolak belakang. Satu putih, satu hitam. Satu dipuja, satu dicerca. Satu yang langka, satu yang 'biasa'. Begitulah elegi dua kata ini bercerita.

Kedua kata membumbui historia manusia, sepanjang masa. Dari keduanya, cerita berakhir dengan suka dan derita; konflik dan intrik. Damai dan perang bermula dari kedua kata; maknanya sering terdistorsi oleh kepentingan semu semata. Dengan dasar dan dalih menjaga wibawa sebatas syak wasangka, makna kedua kata diputarbalik dengan sengaja. Ujung-ujungnya bisa menghilangkan nyawa tak berdosa dan papa.

****************

Gambaran di atas mungkin sedikit berlebihan. Fakta yang berbicara justru mengindikasikan yang demikian. Kejujuran dan kebohongan sudah dibolak-balik dan diobrak-abrik maknanya; yang tertinggal sekarang hanyalah sepah-sepah tak berguna pengoyak rasa.

Kejujuran sekarang ibarat "barang langka"; orang yang masih setia dan teguh kepadanya pun masuk kategori "manusia purba dan langka". Sebaliknya, kebohongan sudah dianggap "biasa" - seperti kebutuhan ekstra. Aneh rasanya bila masih ada manusia di zaman ini yang polos, lugu, jujur dan "apa adanya". Justru manusia pembohong dianggap "raja" melebihi segalanya.

Orang jujur, seringkali dijadikan "objek"; bukan "subjek". Orang jujur seringkali dijadikan "budak" - setidaknya kelinci-kelinci percobaan dalam percaturan kehidupan zaman untuk kemudian menjadi kambing hitam dalam menutupi sebuah kebohongan. Orang jujur juga seringkali dianggap "benalu" sehingga perlu "disingkirkan secara sistematis, metodis dan terpadu". Pun orang jujur seringkali tak dianggap "ada" walaupun mereka ada; tak "digubris" walaupun mereka "kritis". Atau setidaknya, orang jujur dihambat untuk melakukan sesuatu - yang baru dan bermanfaat - meski mereka tidak pernah menghambat.

Lain halnya dengan orang yang tidak jujur alias pendusta lagi pembohong - setidaknya yanhg "mengaku jujur". Mereka sering sebagai "subjek" kehidupan moderen. Mereka cenderung mendayagunakan segalanya - yang putih dan yang hitam - untuk menggapai tujuan-tujuan. Mereka bangga akan "prestasi" seperti ini; prestise. Kalau perilaku bobrok mereka terkuak - sengaja atau tidak - barulah mereka kelabakan dan centang-perenang lalu kasak-kusuk menutupi bahkan mencari kambing hitam (bukan kambing yang bulunya berwarna hitam, Red).

Orang jujur adalah orang yang damai dan mendamaikan; orang yang ikhlas dalam ketaksempurnaan sebagai manusia biasa. Orang yang menang meskipun kelihatan pecundang. Orang yang berjiwa tangguh meskipun kelihatan "rapuh". Orang yang memulihkan jiwa meskipun sering terpapar derita. Orang yang mampu merasakan kenikmatan keajaiban dalam tindakan rencananya. Orang yang mampu "bermain mulus" dan melalui "perangkap kontradiksi" yang menjatuhkan dengan anggun dan sabar.

Meski demikian, kejujuran juga sering memakan "korban"; setidaknya hubungan kekerabatan atau pertemanan yang bisa hilang di balik awan, terbawa bersama indahnya kenangan. Mungkin itu juga yang membuat sebagian orang berpaling dari kejujuran; tidak bersedia mengalami kehilangan. Atau setidaknya, mereka ragu - meragukan janji Yang Maha Satu. Dilema besar meski harus dilalui dengan sabar dan tegar....

"Hanya orang jujur yang bisa menikmati indahnya dan damainya dunia dan jiwa...."





Arif Budiman, S.S.
Bukittinggi - 27 September 2011

Sabtu, 27 Agustus 2011

Mario Teguh Super Point 49 - Pelemah Jiwa vs Penguat Jiwa?

"Orang yang meyakini bahwa nasibnya buruk,
akan menjadi orang pertama yang meragukan
kemungkinan perbaikan hidupnya.

Dia mempertahankan sikap
yang telah melemahkan kehidupannya itu,
dengan sangat kuat, sampai belasan
atau bahkan puluhan tahun.

Hanya pribadi yang cerdas,
yang tahu bahwa pasti ada yang salah,
jika dia harus hidup lemah selama itu.

Maka,

Janganlah mempertahankan sikap
yang tidak menyejahterakan."


Mario Teguh


Mengeluh adalah sifat alami manusia. Mengeluh adalah ekspresi tentang sebentuk 'keyakinan' akan nasib yang kurang atau tidak baik. Mengeluh adalah manusia...!

Mengeluh membawa pengertian bahwa sebuah cita-cita dan harapan besar tidak akan bisa terwujud. Mengeluh terjadi dalam setiap tantangan dan rintangan; tidak peduli kecil atau besar. Mengeluh akan nasib membawa 'penderitanya' menjadi gloomy and doomy (suram dan malang); tak menyisakan semangat dan harapan...!

Manusia itu memang makhluk yang unik; meskipun mengeluh akan bernasib buruk, dia tetap bisa 'berkarya' menghasilkan sesuatu - karya seni misalnya. Entah itu dalam bentuk novel, musik, puisi, lukisan, sinema dan sebagainya. 'Ironisnya', sebagian besar tema yang 'diangkat' adalah yang berbau 'mengeluh' yang berisi kesuraman dan kemalangan. Topiknya pun bermacam-macam; tapi tak terlepas dari CHT (baca: Cinta, Harta dan Tahta). Semuanya - atau sebagiannya - terangkum dalam gurindam sejarah kehidupan yang berkarya.







Arif Budiman, S.S.

Rabu, 24 Agustus 2011

Belajar dari Kesalahan

"Orang yang mengeluhkan
kesalahan yang sama,
pasti karena tidak belajar
dari kesulitan yang disebabkan
oleh kesalahan yang sudah sering dibuatnya.

Melakukan kesalahan
pada tingkat yang tinggi,
bisa lebih mulia daripada
tidak melakukan kesalahan
dalam kehidupan kecil
yang penuh kekhawatiran.

Hidup ini untuk mencapai kebenaran,
dengan keberanian untuk menghadapi kesalahan,
dan tumbuh karenanya."


Mario Teguh


Mengeluh...; salah satu tabiat alami makhluk bernama manusia. Mengeluh...; tentang apa-apa yang dirasa tidak mengenakkan dan menyejukkan. Mengeluh...; tentang apa-apa yang dirasakan begitu membebani dan melelahkan. Mengeluh...; tentang apa-apa yang dirasa 'mustahil' untuk dilakukan dan diwujudkan....

Setiap orang pasti pernah mengeluh; entah sengaja atau tidak. Entah karena 'keadaan' atau karena memang tidak mampu. Mengeluh adalah satu cara ampuh untuk menunjukkan ketidakberdayaan diri dan mengharapkan welas asih orang lain. Namun mengeluh punya efek lain - jika benar-benar diperspektifkan dan diberdayakan dalam artian yang positif; belajar dan belajar untuk tumbuh bersama kesalahan dan kegagalan.

"Belajar" dan "mengeluh" memang dua kata yang sangat kontra. Satu menunjukkan makna semangat yang tinggi untuk terus berkarya dan mengembangkan diri; sementara yang satunya lagi mematahkan semangat untuk tetap berkarya dan berharap. Keduanya ada dalam diri setiap manusia. Berbuat kesalahan? Ya, memang manusia tak pernah terlepas dari hal itu.

Seseorang tidak akan mungkin bisa menjadi 'ahli' dalam suatu bidang tanpa belajar. Sebelum belajar, dia sadar dan tahu betul kalau dia masih 'hijau'; dia pun mengeluhkan hal itu. Dia segera berencana, melaksanakan, merasakan, berharap dan berfikir tentang hal-hal besar - seperti seorang expert. Dia menemukan begitu banyak keajaiban di sana; entah darimana datangnya - bahkan hal-hal yang tidak pernah terlintas di alam pikirannya selama ini. Dia merasakan kebahagiaan dan semangat. Namun pada sisi lain, ada begitu banyak rintangan dan halangan hingga membuatnya 'perlu' sedikit 'mengeluh' untuk kembali termotivasi. Pada akhirnya nanti, dia yakin akan berhasil; cepat atau lambat.

Ilustrasi di atas kelihatannya begitu 'klasik'; tidak sepenuhnya begitu. Melakukan kesalahan pada tingkat tinggi pada hakikatnya memang bisa lebih mulia dan memuliakan daripada hanya diam dan berpangku tangan; terpaku pada kehidupan kecil yang penuh diselimuti awan kekhawatiran. Anak-anak muda - dan berjiwa muda - pantang sekali akan hal ini. Mereka suka berbuat kesalahan dan tumbuh bersamanya....



Arif Budiman, S.S.

Selasa, 16 Agustus 2011

Mario Teguh Super Point 48 - Be Brave!

"Keberanian adalah salah satu
kualitas utama seorang pemimpin.

Orang biasa yang jujur dan berani melakukan
yang ditakuti oleh kebanyakan orang,
akan tampil dan naik sebagai pemimpin.

Perhatikanlah bagaimana orang-orang
yang seharusnya menjadi pembesar,
berlaku dengan keberanian kecil
karena hutang keburukan dalam pergaulannya.

Ketidak-jujuran adalah perusak keberanian."


Mario Teguh


Mungkin kita semua pernah mendengar atau membaca kata-kata mutiara berikut: "Berani karena benar; takut karena salah...". Berani karena sesuatu yang dilakukan itu benar dan baik; sebaliknya takut kalau sesuatu yang dilakukan salah menurut yang seharusnya. Atau (mungkin) sebuah hadits shahih: "Katakanlah yang sebenarnya walaupun itu pahit...". Berani mengatakan atau melakukan sesuatu walaupun nanti akan mendapatkan sesuatu yang pahit.

"Berani" dan "Benar" adalah pasangan sejati. Keduanya tak dapat dipisahkan; andaikan (bisa) dipisahkan, maka maknanya tidak akan lengkap dan terdistorsi. Sementara "jujur" adalah 'mas kawinnya'. Ketiganya akan membawa suatu perubahan dari skala kecil hingga besar; baik tingkat pribadi-pribadi maupun global. Ketiganya adalah jaminan mutu sebuah kepemimpinan.

Berapa dan betapapun resiko dan tantangannya, orang-orang dengan kualitas seperti ini akan tampil 'luar biasa'. Mereka melakukan sesuatu yang banyak ditakuti dan dijauhi kebanyakan orang; sesuatu yang baru; sesuatu yang banyak dicela. Padahal, mereka hanyalah sekumpulan orang-orang biasa; manusia akhir zaman....

Kegagalan yang mereka alami hanya sebatas "cambuk" untuk berbuat lebih; lebih baik, lebih besar, lebih terencana, lebih matang dan lebih bermanfaat. Sesungguhnya tak ada yang sia-sia bagi mereka; semuanya bisa dimanfaatkan - bahkan sesuatu yang 'najis' sekalipun. Mereka percaya bahwa setiap ciptaan itu adalah keajaiban; karena memang diciptakan dengan keajaiban.

Ada baiknya kita menyimak kata-kata mutiara seorang John Fitzgerald Kennedy, presiden Amerika Serikat ke-35 sekaligus yang termuda diantara presiden-presiden Negara Adidaya itu. Beliau berkata: "Hanya orang yang berani gagal total, akan meraih keberhasilan total...". Artinya, orang-orang yang berani mengambil resiko maksimal akan meraih kesuksesan maksimal. Dan biasanya, hanya orang-orang muda-lah yang memiliki semangat seperti ini. Pemuda adalah pengubah dunia.


"Selamat Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-66"







Arif Budiman, S.S.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Mario Teguh Super Point 47 - Success Is My Right

"Bagi hati yang enggan, tidak ada yang mudah.

Bagi hati yang ceria, semua bisa dilaksanakan.

Semua yang hanya diimpikan tanpa tindakan,
akan menjadi penggelisah hati.

Sesungguhnya,

Keberhasilan itu dekat, bagi yang rajin,
tapi jauh bagi yang malas.

Maka,

Bermimpilah yang sebesar-besarnya,
tapi bersegeralah untuk mengerjakan
sekecil-kecilnya kebaikan yang terdekat."

Mario Teguh


Semua orang tentu ingin memiliki suatu penghidupan yang baik; kaya, terpandang, mempunyai nama besar dan tentu saja bermanfaat untuk sesama. Dalam arti kata, suatu kehidupan yang sukses. Dengan kesuksesan itu, kebahagiaan akan terasa.

Dalam mewujudkannya, banyak diantara kita yang benar-benar berhasil; sementara banyak juga yang tidak. Bahkan, banyak juga diantara kita yang sebaliknya: tidak melakukan apa-apa, hanya bisa diam dan sibuk mengumpulkan "jikalau" (dari alm. KH. Zainuddian MZ). Mencita-citakan sesuatu yang baik bagi kehidupan memang sudah menjadi fitrah manusia, tetapi mewujudkan dalam arti melaksanakan segala sesuatu yang mungkin bisa dilakukan adalah suatu keniscayaan. Tidak mungkin keberhasilan akan diraih tanpa adanya usaha; bahkan suatu keberhasilan akan membutuhkan suatu pengorbanan yang seimbang - semakin besar cita-cita keberhasilannya semakin besar pula pengorbanannya. Terkadang, pengorbanan yang dibutuhkan lebih besar lagi.

Dibutuhkan kesungguhan, komitmen dan dedikasi dalam mencapai sebuah kesuksesan disamping kebersegeraan dalam melakukan tindakan-tindakan kecil yang bisa dilakukan. Kesuksesan itu pun ada tingkatannya dan itu memerlukan suatu proses untuk memantaskan. Jika sudah mencapai suatu tingkat tertentu dan hasilnya telah diraih, maka bersiaplah dan lakukan segera pemantasan untuk tingkat selanjutnya. Contohnya, jika Anda ingin menjadi seorang penulis besar seperti J.K. Rowling ataupun John Grisham, mulailah dengan banyak membaca dan menulis. Latihlah keterampilan menulis Anda; semakin banyak semakin baik. Tangkaplah ide-ide yang 'berseliweran' di atas sana dan buat tulisannya langsung dengan mengetik langsung di komputer atau notebook; kalaupun tidak, catat dalam buku blocknote yang banyak tersedia di pasaran. Bila 'metode' terakhir ini yang Anda gunakan, bawalah selalu buku tersebut karena yang namanya ide bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Setelah tulisan itu jadi, publikasikan dengan segera - entah itu ke surat kabar, majalah ataupun blog/website pribadi.

"Tidak ada satu jalan ke Roma; ada banyak jalan menuju kesuksesan. Yang terpenting adalah Anda ikhlas melakukan apapun yang mungkin Anda lakukan untuk mewujudkannya sekaligus ikhlas pula menerima hasilnya. Ingatlah, apapun yang Anda raih sekarang atau nanti, semua itu hanyalah sementara; jadikan dia sebagai modal untuk kepantasan dan hasil untuk tingkat yang lebih tinggi berikutnya...."

 
 

 
 
 
Arif Budiman, S.S.

Kamis, 30 Juni 2011

Mario Teguh Super Point 46 - Malas is Not My Culture

"Tidak ada strategi jangka panjang yang tepat,
tanpa keberhasilan jangka pendek.

Dan tidak ada impian yang patut dihormati,
tanpa kesediaan untuk menindak-lanjuti
rencana yang terdekat dengan segera.

Marilah kita menguatkan diri,
karena telah banyak sekali jiwa baik
yang sangat berbakat,
yang impian besarnya dihancurkan
oleh rasa malas yang paling kecil.

Tetaplah menjadi jiwa yang merajinkan diri."


Mario Teguh (Facebook)



"Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya". Siapa yang tak tahu pepatah ini. Orang yang rajin akan semakin pandai dalam sesuatu ilmu atau pekerjaan. Sementara orang yang hemat akan semakin kaya karena membelanjakan hartanya "tepat guna" dan mampu mencukupi apa yang dibutuhkan pada saatnya. Jika digabungkan, orang-orang dengan tipe ini akan sangat-sangat beruntung; bahkan disukai oleh yang ada di Langit dan di Bumi.

"Malas pangkal bodoh, boros pangkal miskin". Meskipun tak termasuk pepatah 'aseli', artinya sudah sangat jelas - lawan dari yang pertama. Orang yang malas akan semakin ketinggalan; sementara orang yang boros akan semakin miskin karena membelanjakan harta tidak secara ‘tepat guna’ alias efektif dan efisien. Jika digabungkan, orang-orang tipe ini jelas akan sangat- sangat merugi; bahkan tidak disukai oleh yang ada di Langit dan di Bumi.

Rasa malas memang ada dalam diri setiap manusia, betapapun rajinnya dia – karena setiap manusia memang diberikan potensi untuk itu. Tapi pada dasarnya itu hanyalah masalah pilihan; apakah tetap berada dalam keadaan terhanyut oleh ninabobok kemalasan yang menghancurkan atau bangkit dan bertindak dengan tegas lagi segera! Sejujurnya, rasa malas itu sangat ‘bermanfaat’ jika dikelola dan didayagunakan dengan baik. Misalnya, Anda malas jika hanya bisa mengerjakan satu pekerjaan dalam sehari atau bergaul dalam lingkungan yang tidak membesarkan dan membuat Anda tumbuh dengan baik. Tentu saja, “kemalasan” seperti ini akan bernilai sangat positif, konstruktif dan produktif.

Yang perlu Anda lakukan adalah bertindak dengan segera dalam rangka menindaklanjuti apa-apa yang sudah Anda rencanakan; bahkan dengan amat-sangat matang. Janganlah terlalu berfokus atau memikirkan hasil atau bagaimananya dalam proses pencapaian target! Seringkali terjadi bahwa apa-apa yang Anda khawatirkan yang menjadikan Anda menunda-nunda pekerjaan tersebut TIDAK TERJADI dalam kenyataannya. Kalaupun toh terjadi juga, Anda dengan refleks dan fleksibel akan menemukan cara-cara lainnya yang lebih baik*. Pemikiran atau perencanaan Anda adalah hasil dari kinerja otak Anda; begitu juga dengan pilihan (dalam hal ini tindakan) yang Anda pilih**. Dengan kapasitasnya yang begitu luar biasa – 30 juta sel syarat (neuron) yang setara dengan 30 trilyun Giga byte – akan sangat mempengaruhi Anda dalam dua hal. Yang pertama dalam merencanakan dan yang kedua dalam meyakinkah diri Anda melakukan tindakan. Artinya, jika otak Anda berkata “Saya mampu”, maka Anda mampu dan seluruh anggota tubuh Anda akan melaksanakan seluruh perintah otak Anda.

“Impian yang pantas dihormati adalah impian yang segera diwujudkan dalam bentuk tindakan-tindakan yang bersegera. Keberhasilan jangka pendek akan menentukan strategi jangka panjang yang tepat; strategi jangka panjang yang tepat akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan maupun kegagalan jangka pendek.”





Arif Budiman, S.S.

Referensi:
* Arsendatama, Al Falaq. Motivasi: Tips Mengatasi Rasa Malas. http://www.pengembangandiri.com/articles/56/1/Motivasi-Tips-Mengatasi-Rasa-Malas/Page1.html

Selasa, 28 Juni 2011

Mario Teguh Super Point 45 - The Beautiful Contradictions

"Inginkanlah yang mudah,
tapi janganlah lupakan keharusanmu
untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.

Ingatlah, bahwa

Bukan pemberian yang mudah
yang akan memudahkan hidupmu,
tapi kemampuan yang menjadikanmu
pantas bagi pemberian-pemberian besar,
yang tidak mudah untuk didapat itu,
yang akan menjadikanmu
penegak kehidupan yang berjaya,
yang sejahtera dan berwenang.

Stay super!"


Mario Teguh (Facebook)


Sekilas, postingan Pak Mario dalam Facebook ini tampaknya bertolak belakang. Yang satu 'rekomendasi' agar kita meminta yang 'mudah-mudah'; sementara di bawahnya langsung 'disambut' dengan kata tapi - keharusan kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih kuat dari waktu ke waktu. Dalam postingan kali ini, izinkanlah saya untuk menjelaskannya kepada Anda!
*******
Ada dua hal yang sama sekali berbeda; menginginkan yang mudah dan keharusan untuk menjadi lebih kuat. Semua orang tentu menginginkan hal-hal yang mudah dan 'biasa' untuk mendapatkan hasil  maksimal yang diinginkan (prinsip ekonomi). Dengan begitu, tenaga dan pikiran serta waktu yang dibutuhkan akan lebih sedikit (baca: efektif dan efisien). Kalaupun dilebihkan, tentu hasilnya akan lebih maksimal dan 'kebahagiaan' atas keberhasilan itu tentu akan 'berlipat ganda' pula.

Bagaimana halnya dengan keharusan untuk menjadi lebih kuat? Frase "lebih kuat" di sini dapat diartikan sebagai kemampuan atau skill, ilmu, pengalaman, ketangguhan, usaha, doa dan lain-lain yang semakin 'lebih' dari waktu ke waktu. Tantangan dan kesulitan hidup yang kita alami semakin hari semakin keras. Untuk mengimbanginya dan tetap survive, kita tentu harus meningkatkan kualitas diri dalam semua lini. Kita belajar dari pengalaman - pribadi maupun orang lain. Kita bekerja secara cerdas, keras dan bernas. Karena dengan begitu, kita - setidaknya - dapat merasakan arti kebahagiaan yang 'sebenarnya' - tidak peduli apakah masih 'pemula' atau 'belum menampakkan' hasil.

Menginginkan sesuatu yang mudah dengan cara-cara yang mudah dan biasa, itu sudah lazim. Tingkat keberhasilannya sudah bisa diprediksi; seperti apa dan bagaimana. Setelah itu, yang terasa hanyalah motivasi dan semangat yang 'biasa-biasa saja'. Tetapi jika dilakukan dengan cara yang 'tidak biasa' - dalam arti 'luar biasa' dengan kemampuan dan pribadi yang lebih kuat dan 'besar', hasilnya pasti 'luar biasa'. Seorang bijak pernah berkata bahwa keajaiban itu hanya akan terjadi jika kita mau 'banting setir' dari cara-cara biasa yang sudah lazim diikuti orang. Ide-ide atau inovasi-inovasi besar sering lahir dalam kondisi seperti ini, yang pada awalnya memang terlihat 'tidak mungkin' - Mission Impossible

Pribadi yang lebih kuat akan dengan tindakan dengan visi, misi dan cara kerja yang juga lebih kuat akan membuat seseorang menjadi pantas; pantas untuk menerima hal-hal yang besar yang (mungkin) jauh lebih besar dan hebat dari yang pernah diimpikannya. Sementara itu, pemberian yang mudah (didapat) akan memberikan 'kesan' yang mudah hilang. Menuntut hal-hal yang mudah akan membuat Tuhan memberikan yang mudah-mudah saja; begitu pula dengan tuntutan yang terbaik (dan terbesar) - setidaknya 'lebih besar' dan 'lebih baik dari yang biasa-biasa saja'. Menjadikan diri ikhlas menerima dan menjalani 'proses penempaan Tuhan' untuk sesuatu yang besar dan grandeur, membuat diri kita akan semakin tangguh dan bijak dalam memandang dan merespons kehidupan - itulah Mission Possible-nya. Selebihnya, biarkan Tuhan yang 'mengurus'!

So:
"Setiap individu adalah pemimpin; setidaknya pemimpin bagi dirinya sendiri. Menjadi pemimpin lewat jalur 'reguler' adalah baik dan akan menjadi lebih baik lagi (bahkan terbaik) jika dilalui dengan melewati jalur 'express' sehingga melahirkan pemimpin-pemimpin yang besar, tangguh dan berkualitas tinggi. Kontradiksi bagi orang-orang besar bukanlah sesuatu yang merugikan; bahkan 'pemanis' jiwa dan karakter mereka. Yang biasa dan mudah hanya untuk orang yang biasa; sedangkan yang 'luar biasa' dan  'sulit' hanya untuk orang-orang besar yang lebih mementingkan tindakan; “You do not have to be great to start, but you have to start to be great.” - Joe Sabah*)"





Arif Budiman, S.S.

Artikel terkait:
* Jerung Perkasa. 31 Kata-kata Motivasi Tentang Bertindak. http://jerungperkasa.com/motivation/31-kata-kata-motivasi-tentang-bertindak

Senin, 27 Juni 2011

Mario Teguh Super Point 44 - "Anti-NATO (No Action Talk Only) Movement"

"Sebagian besar orang yang
mempekerjakan para sarjana
adalah orang-orang yang pendidikannya sederhana.

Mereka menjadi pengusaha
yang menggaji pegawainya yang keren
dan berpendidikan tinggi,
karena lebih cepat bertindak
dan tidak beku dalam retorika.

Itu adalah bukti bahwa

BERTINDAK LEBIH MUDAH DARIPADA BICARA.

Orang yang lebih segera bertindak,
lebih segera makmur hidupnya
daripada yang banyak alasan."


Mario Teguh (Facebook)


NATO; dapat kita pastikan tidak ada seorangpun di dunia ini - terutama di Indonesia - yang tidak 'mengenal' 'kata' ini. Setidaknya, ada dua makna yang dia kandung. Pertama, dia adalah sebuah singkatan dari North Atlantic Treaty Organization, yaitu pakta pertahanan (militer) negara-negara di kawasan Atlantik Utara yang 'dimotori' Amerika Serikat - lawannya Pakta Warsawa yang 'dimotori' Uni Sovyet (dulu). Sementara yang kedua, juga merupakan singkatan dari No Action Talk Only - sebuah sindiran kasar alias sarkasme bagi mereka yang 'bisanya cuma ngomong doang' tanpa ada 'bukti' yang jelas. Tapi pada postingan kali ini, saya tidak akan membahas 'makna' pertama; karena semuanya pasti sudah tahu (kalaupun tidak atau kurang, cari saja di Google).

Bertindak dengan segera, itulah kata kunci "gerakan anti-NATO" dalam tulisan yang singkat ini. Keinginan atau cita-cita tidak akan terwujud tanpa tindakan. Itu hanya berupa khayalan yang kosong. Namun, khayalan atau imajinasi tetap diperlukan sebagai gambaran "what we will be". Pampangkan saja gambar Barrack Obama, jika Anda berimajinasi menjadi seorang presiden berpengaruh atau Michael Jackson bila Anda berimajinasi menjadi penyanyi pop terkenal. Berimajinasi yang tinggi berarti kita punya satu tujuan yang besar dan jelas, sehingga bila menemui 'kegagalan-kegagalan' kecil kita 'tak akan mudah jatuh dan terjatuh' dan bila berhasil akan menjadi 'modal' untuk perbaikan-perbaikan cara atau metode untuk melakukan yang lebih baik dan lebih banyak (doing better and doing more).

 Lakukan saja dulu, jangan terlalu berpikiran pada hasil. Anggap saja rencana yang sudah kita buat dan susun serapi mungkin sebagai 'acuan'; jangan terlalu diikuti! Sering sebuah tindakan berseberangan dari rencana; bahkan lebih baik dari yang direncanakan. Dengan tindakan yang segera, kita bisa tahu 'seperti apa kenyataannya' sehingga kita bisa memperbaiki atau 'mengutak-atik' caranya. Tak jarang pula muncul ide-ide 'segar' selagi kita melakukan rencana tersebut. Anda akan merasakan 'perbedaannya'; bahwa ternyata bertindak itu tidak sesulit yang direncanakan!

Terakhir, berambisilah dan biarkan 'ambisi' itu lead you to your own new progress by the meaning of time! 





Arif Budiman, S.S.


Sabtu, 25 Juni 2011

Mario Teguh Super Point 43 - Kekayaan Sejati

"Pak Mario, bagaimana caranya
jadi orang paling kaya di dunia?

Saya belum jadi orang paling kaya di dunia,
jadi saya tidak bisa memberitahukan caranya kepada Anda.

Saya lebih tertarik kepada hidup yang melakukan,
daripada yang memiliki.

Saya ingin melayani saudara dan sahabat kita
yang belum damai dan belum sejahtera hidupnya.

Yang kita lakukan untuk kebaikan sesama,
adalah kekayaan yang sesungguhnya."
Mario Teguh (Facebook)


Semua orang bekerja dengan satu tujuan pasti: mencapai suatu tingkat yang disebut kaya. Apa yang dimaksud dengan kaya? Kaya bisa didefinisikan sebagai suatu keadaan hidup yang cukup, bahkan berlebih. Dengan kekayaan yang dimiliki, seseorang mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya - baik primer, sekunder maupun tersier; bahkan memberikan sebagiannya untuk orang lain yang membutuhkan bantuan.

Apa sajakah yang termasuk ke dalam kekayaan itu? Uang atau materi; itulah yang biasanya dipilih orang. Dengan uang atau materi, kita bisa hidup layak dan bahagia. Dengan kata lain, hidup akan menjadi sejahtera. Dengan hidup yang sejahtera, kebahagiaan mungkin bisa kita raih. Tapi, apakah hanya itu saja yang disebut kekayaan itu?

Ternyata, TIDAK! Kekayaan atau harta berharga itu bukan cuma berupa uang atau materi; tapi yang jauh lebih penting kekayaan dalam hati. Kekayaan hati itu bisa berupa sikap jujur, sabar, ikhlas, penyerahan total kepada Tuhan yang akan membuahkan kebijaksanaan hidup. Orang-orang yang kaya hati akan lapang jiwanya; meskipun mereka tidak mempunyai harta ataupun 'pas-pasan'. Orang-orang seperti ini tidak terlalu berfokus pada uang atau materi atau segala hal yang menyangkut pada 'kepentingan perut' semata. Apapun yang dilakukannya adalah kebaikan dengan jiwa ikhlas; dari awal sampai akhir mereka melakukannya dengan gembira dan senang hati - meskipun sering gagal atau banyak hambatan. Suatu saat mereka down, marah; mereka segera 'sembuh' dan kembali ke niatan awal dan melanjutkan pekerjaan yang 'tertinggal' alias resume dengan cara, semangat dan etos yang sama baiknya - bahkan terkadang lebih baik. Cara kerja mereka persis seperti program download manager; contohnya Internet Download Manager (IDM).

Orang-orang yang bekerja untuk melayani demi kebaikan bersama pada hakikatnya adalah orang-orang yang bahagia; dan tentu saja kaya - kaya hati. Orang yang kaya hati akan lebih mudah 'dikayakan' Tuhan dengan materi. Mereka hanya perlu "meng-upload" segala kebaikan - sekecil apapun itu - dimana saja dan kapan saja dengan kecepatan tinggi; pada gilirannya mereka akan "men-download (unduh)" balasan baiknya juga dengan kecepatan tinggi dimana saja dan kapan saja - bahkan terkadang lebih cepat dan lebih baik.

Jadi mau pilih yang mana: kaya harta atau kaya hati?





Arif Budiman, S.S.

Senin, 20 Juni 2011

Mario Teguh Super Point 42 - Kemarahan Pembuat Besar

"Anda dikenal melalui pertarungan yang Anda pilih.

Karena,

Apa pun yang Anda perjuangkan melalui pertarungan,
pasti merupakan sesuatu yang penting bagi Anda.

Jika Anda bertarung untuk hal yang kecil dan tidak penting,
maka kecil dan tidak pentinglah Anda.

Jika yang Anda perjuangkan adalah hal-hal yang baik dan bernilai,
maka baik dan bernilailah Anda.

Periksalah nilai dari yang membuat Anda marah".

Mario Teguh (Facebook)


Kita semua pasti pernah marah; kita marah karena orang lain tidak seperti yang kita harapkan. Atau, kita marah karena orang lain berpikiran dan menilai sesuatu tidak sama dengan kita. Marah adalah suatu yang alami dan sudah menjadi 'bagian diri kita' sejak diciptakan-Nya.

Namun, marah yang terlalu lebay atau tidak pada tempatnya justru akan membuat kehancuran. Segala usaha yang telah kita kerjakan dalam kurun waktu yang lama untuk menggapai sebuah cita-cita akan kandas di tengah jalan; layu sebelum berkembang. Atau setidaknya, 'kenikmatan' perjuangan tersebut akan terasa hambar. Untuk itu, semuanya perlu dikelola dengan baik - tak terkecuali dengan marah (manajemen marah)*. Dengan begitu, marah yang destruktif - merusak - dapat dihindari; karena marah yang seperti ini akan bersifat sangat kontra-produktif dengan apa yang kita lakukan untuk sebuah cita-cita.

Marah - dalam sebuah makna - dapat diartikan sebagai sebuah bentuk 'pertarungan'. Pertarungan untuk menjadi orang berhasil atau besar atau justru menjadi orang kalah atau pecundang. Orang yang marah dalam 'pertarungannya' menandakan bahwa sesuatu yang ingin dia capai dalam usaha dan perjuangannya mempunyai arti penting tersendiri baginya, yang mungkin bagi orang lain tidak (begitu) berarti atau malah kurang berarti. Ini semata-mata adalah sebuah pilihan!

Mungkin kita pernah melihat ada sebagian orang yang begitu 'marah' alias 'ngototnya' mencapai sesuatu yang kecil yang sudah biasa dilakukan orang. Mereka - biasanya - cenderung egois dan tidak mau menerima masukan dari pihak manapun. Dalam taraf ekstrim, mereka bahkan menolak mentah-mentah sesuatu saran yang sebenarnya jauh lebih baik; entah itu berupa cara 'alternatif' atau pilihan-pilihan lainnya agar mereka mendapatkan kesuksesan yang lebih. 

Sebaliknya, kita juga mungkin pernah melihat sebagian orang - sebagian kecil, tepatnya - yang begitu 'ngotot' mencapai sesuatu yang menurut orang lain tidak mungkin, tidak akan bisa atau mustahil; ya, sesuatu yang grandeur atau besar sekaligus priceless atau berharga/bernilai. Mereka tidak peduli; bahkan menjadikan ocehan atau cemoohan itu sebagai bahan bakar 'cadangan' berkekuatan besar. Mereka punya visi mereka sendiri, didukung sumber daya dan potensi yang mereka miliki plus keyakinan. Jika pun mereka 'harus' gagal, mereka akan cepat bangkit dan bertahan; karena menurut mereka, 'kegagalan yang sebenarnya' adalah gagal mencapai sesuatu yang besar. Artinya, 'kegagalan-kegagalan kecil' hanya akan membuat mereka menjadi lebih siap dan 'berkonsolidasi diri' lebih cepat, masif dan tepat - mereka tidak akan pernah kecewa sedikitpun. Jika mereka menggapai keberhasilan-keberhasilan kecil, nilainya akan menjadi ganda; modal besar untuk menggapai suatu keberhasilan besar yang mereka cita-citakan. Jikapun pada akhirnya 'digagalkan oleh-Nya', mereka tetap bisa tersenyum - meskipun Tuhan tidak akan mendzalimi insan-insan yang melayani-Nya. Bagi mereka, segala bentuk masukan akan memperkaya wawasan dan ide-ide; nothing to lose!

Kedua contoh di atas memiliki satu perbedaan yang nyata; yang pertama - orang-orang yang 'ngotot' terhadap sesuatu yang kecil' - pada hakikatnya menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang kecil, kerdil, bermental 'anak-anak', tidak penting dan sebagainya. Sebaliknya, yang kedua - orang-orang yang 'ngotot' pada sesuatu yang hebat, besar dan bernilai - sebenarnya menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang besar - setidaknya calon orang-orang besar yang memiliki nilai tinggi dalam masyarakat, bangsa dan negara. Dan sekali lagi, this is all about choice you made!

Jadi, bukan marahnya yang menjadi persoalan; tetapi pada kualitas dan makna di balik marah-nya itu - yang membuat adanya perbedaan. "Orang kuat itu bukan orang yang badannya besar dan kekar. Orang kuat adalah orang yang bisa menahan amarahnya"**.






Arif Budiman, S.S.

Artikel terkait:
*Marzuki, Nevy. Dadang Hawari - Manajemen Marah. http://hnf66.multiply.com/journal/item/10

Kamis, 16 Juni 2011

Mario Teguh Super Point 41 - Nikmatnya Ikhlas

"Orang-orang yang sibuk
melebihkan pekerjaan di atas bayarannya,
akan lebih berhasil daripada mereka
yang bekerja hanya sesuai dengan bayarannya.

Ada orang yang demikian hitung-hitungan
mengenai kesediaannya untuk bekerja,
sampai dihitung kembali oleh kehidupan
dengan sangat tegas.

Orang yang bekerjanya hanya untuk pas
dengan bayaran, hidupnya akan dibuat pas-pasan.

Yang melebihkan, akan dilebihkan."

Mario Teguh (Facebook)


"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.s. an-Nahl: 18).

Manusia diciptakan Tuhan ke muka Bumi dan ke tengah-tengah Semesta Raya adalah sebagai khalifah atau wali-Nya. Artinya, manusia itu adalah 'wakil' Tuhan di Alam Semesta - dengan segala nama-Nya yang indah dan anggun ada pada diri manusia - setiap manusia. Untuk itulah, Alam Semesta Raya benar-benar 'dirancang' dan 'diciptakan' oleh Tuhan dengan segala perhitungan terbaik; segala fasilitas yang ada pun dari kualitas dan kuantitas terbaik. Semuanya untuk manusia; dan untuk 'dibagikan' ke seluruh makhluk hidup lainnya.

Namun hidup bukanlah sesuatu yang gampang. Kehidupan ini memiliki segala yang berpasang-pasangan; ada siang dan malam, ada baik dan buruk, ada suka ada duka. Semuanya adil dan punya 'masanya'. Setiap manusia punya kesempatan yang sama untuk menjadi yang lebih baik, lebih beruntung. Semuanya punya potensi dan pilihan! Karena semuanya "sementara"...!

"Ikhlas" adalah sebuah kata sederhana; yang sangat mudah diucapkan oleh lidah, tapi (sering) sulit untuk dipraktekkan. Inilah kata kunci untuk kehidupan yang bermakna dan nikmat yang tiada tara. "Ikhlas" berkawan erat dengan kata "sabar" dan "jujur"; ketiganya adalah senjata orang-orang sukses dan besar.

Sering sekali kita temui bahwa banyak orang yang dalam kehidupannya bekerja hanya untuk apa-apa yang sudah jelas-jelas akan didapatkannya; sesuai bayaran yang akan/telah diterimanya. Mereka cenderung 'melupakan' jiwa dan hati yang ikhlas dan sikap sabar dalam melakukan sesuatu. Pada akhirnya, kejujuran pun berangsur-angsur hilang dari hati mereka seiring lunturnya semangat untuk memberikan dan melakukan yang terbaik.

Bagi mereka yang ikhlas, sabar dan jujur, apa saja yang mereka lakukan adalah perbuatan/amal baik yang mesti dilakukan dengan sebaik mungkin. Bagi mereka, melakukan dan memberikan yang terbaik adalah sebuah keniscayaan; itulah target mereka yang membuat mereka menjadi punya 'nilai tersendiri' di pandangan manusia-manusia lain. Mereka adalah kelompok 'pembeda'. Bagi mereka pula, melebihkan pekerjaan atau waktu, tenaga, pikiran bahkan uang adalah suatu nikmat. Dan setelahnya, wajah-wajah mereka akan berseri-seri seperti bulan purnama.

So:
"Berbuat dan memberi yang lebih dan terbaik daripada yang 'seharusnya' - secara kasat mata - tampaknya 'merugikan'; setidaknya sedikit lebay. Namun dibalik itu tidaklah demikian; orang-orang yang ikhlas, jujur dan sabar itu sedang 'menabung' untuk sesuatu 'terbaik' yang akan mereka dapatkan pada suatu hari nanti - mereka akan 'naik sabuk' atau naik ke kelas yang lebih tinggi dengan tanggung jawab yang lebih tinggi pula. Mereka adalah pengguna utama 'jalur penghebatan kehidupan'; pelejit diri - Pegasus. Mereka adalah orang-orang besar - kepada merekalah 'tugas dari langit' hanya diserahkan sepenuhnya. Jadi, apa yang Anda pilih? Your choice will make you the thing you've chosen!"





Arif Budiman, S.S.



Artikel terkait:
Anneahira. Sabar dan Ikhlas Menghadapi Segala Permasalahan. http://www.anneahira.com/sabar-dan-ikhlas.htm
Anonymous. Wanita Mulia dengan Sabar dan Ikhlas. http://erinakartikasari.blogspot.com/2009/07/wanita-mulia-dengan-sabar-dan-ikhlas.html

Jumat, 03 Juni 2011

Mario Teguh Golden Ways 40 - Antara Kehidupan Masa Depan dan Liburan

"Ada orang yang lebih bersemangat
merencanakan liburan,
daripada merencanakan karir
dan kehidupannya.

Lalu dia kembali ke pekerjaannya
dengan sindrom pulang liburan,
yaitu lesu karena aktifitas tidak terukur
selama liburan, stress karena belanja berlebihan,
dan kehilangan momentum pada pekerjaan
yang ditinggalkannya sebelum liburan.

Apakah Anda merencanakan kehidupan
seperti Anda merencanakan liburan?"


Mario Teguh (Facebook)


Banyak orang berpendapat bahwa karir atau kehidupan masa depan dan liburan adalah dua hal yang berbeda. Yang satu 'menuntut' kita bekerja dengan serentetan program dan target; yang satunya lagi 'membebaskan' kita dari serentetan program dan target tersebut. Mungkin hanya sebagian kecil saja yang bisa menjalankan keduanya; bahkan mungkin tidak ada!

Karir dan liburan memang dua hal yang berbeda; tapi sebenarnya saling melengkapi. Bekerja dengan sungguh-sungguh, pada suatu saat, kita pasti akan merasakan kelelahan bahkan kejenuhan. Untuk itu, liburan diperlukan untuk 'me-recharge' tenaga, pikiran dan semangat agar pekerjaan tersebut dapat dilanjutkan dengan 'sesuatu yang baru'. Namun, keasyikan dalam 'semangat' liburan sering membuat kita terlena, terlupa akan program dan target mulia yang hendak kita capai. Terkadang, rasa malas pun menghinggapi ketika akan melanjutkan pekerjaan. Inilah salah satu dampak 'negatif' liburan!

Dalam karir dengan serentetan program dan target, kita sudah 'terbiasa' dengan jadwal atau prosedur 'baku'; terkadang dengan batasan waktu yang dibuat 'ketat'. Semua itu dibuat dalam sebuah perencanaan (planning) yang terukur; terkadang dibuat tanpa - lebih tepatnya kurang - didasari semangat 45 yang 'menyala-nyala'. Sementara dalam liburan, itu tidak pernah terjadi; kita bisa melakukan apapun - segala hal yang menyenangkan alias fun - dengan planning yang dibuat dengan penuh semangat 45 yang juga sering 'kebablasan'.

So, kita memang memerlukan liburan diantara rutinitas pekerjaan dan upaya kita menjadikan kehidupan menjadi lebih baik. Liburan yang baik adalah liburan yang direncanakan dan dilakukan - bahkan di-asses (dinilai) - dengan baik; dalam arti tidak berlebihan dan tidak 'kenal waktu'. Liburan adalah salah satu sarana kita 'merevitalisasi' segala potensi diri untuk mencapai tujuan-tujuan hidup yang ingin dicapai. Tujuan liburan adalah rekreasi, yang akan melahirkan tubuh dan pikiran yang segar dan sehat.*





Arif Budiman, S.S.


* Untuk informasi lebih lengkap, baca artikelnya di http://en.wikipedia.org/wiki/Recreation)

Rabu, 01 Juni 2011

Mario Teguh Golden Ways 39 - Kegelisahan Hati

"Jika engkau merasa tersiksa
dengan keadaanmu sekarang,
melarikan diri dari keadaan itu
tidak akan melepaskan kegelisahan
dari jiwamu.

Sesungguhnya,
kegelisahan tidak berada di tempat
yang menggelisahkanmu,
tapi ada di hatimu.

Pelarian hanya akan menyampaikanmu
di tempat yang jauh
dengan perasaan yang sama.

Karena sebetulnya engkau tidak bisa
berlari meninggalkan hatimu sendiri.

Tenteramkanlah hatimu."
Mario Teguh (Facebook)


"Resah dan gelisah
Menunggu disini
Di sudut sekolah
Tempat yang kau janjikan
Ingin jumpa denganmu
Walau mencuri waktu
Berdusta pada guru

Malu aku malu
Pada semut merah
Yang berbaris didinding
Menatapku curiga
Seakan penuh tanya
Sedang apa disini
Menanti pacar jawabku

Reff:
Sungguh aneh tapi nyata
Takkan terlupa
Kisah kasih di sekolah
Dengan si dia
Tiada masa paling indah
Masa-masa di sekolah
Tiada kisah paling indah
Kisah kasih di sekolah

Malu aku malu
Pada semut merah
Yang berbaris di dinding
Menatapku curiga
Seakan penuh tanya
Sedang apa disini
Menanti pacar jawabku

Reff

Sungguh aneh tapi nyata...
Kisah Kasih di Sekolah...
Tiada masa paling indah
Masa-masa di sekolah
Tiada kisah paling indah
Kisah kasih di sekolah

Masa-masa paling indah
Masa...... indah......
Kisah kasih di sekolah
Masa...... indah......"

*****

Bagi yang 'berjaya' pada era 80-an pasti kenal sekali dengan lagu di atas. Ya..., buah karya Obbie Messakh - dan dinyanyikan sendiri - itu begitu akrab di telinga para pendengarnya di seluruh Tanah Air. Sebuah lagu yang cukup fenomenal! Sampai akhirnya, lagu ini 'dipopulerkan kembali' oleh Chrisye (alm.) feat Ariel PeterPan; tentu dengan aransemen musik ala PeterPan yang khas. 

Kegelisahan hati adalah milik semua orang; begitu pula kebahagiaan hati. Hati yang gelisah selalu terasa menekan; menekan perasaan, menekan jantung, menekan ulu hati, menekan kepala - stress, depresi dan menekan dada hingga membuat nafas sesak dengan suara serak, parau. Semangat berkarya pun mengendor; harapan pun 'seakan' terbang melayang-layang dibalik awan. Sebaliknya hati yang bahagia akan membuat segalanya lebih baik, lebih bernilai dan lebih nyaman dijalani.

Kegelisahan dan kebahagiaan adalah bumbu kehidupan; berputar selalu. Tak selamanya seorang hamba gelisah hatinya; dan tak selalu pula seorang hamba hatinya bahagia. Entah itu banyak atau sedikit; itu bukan ukurannya! Terkadang dari sebuah kegelisahan akan melahirkan sebuah kebahagiaan; dari kebahagiaan pun bisa berubah wujud menjadi kegelisahan. Kitalah yang menentukan!

Melarikan diri dari kegelisahan hati tampaknya menjadi solusi 'paling mujarab' yang banyak dilakukan orang. Awalnya memang manjur; bahkan terkadang sangat manjur. Kegelisahan itu tertinggal lalu terkubur! Pengalaman beberapa orang malah sebaliknya; itu hanya sementara! Yang terjadi kemudian hanya membuat kegelisahan tersebut semakin merajalela, semakin memburuk; tak terkendali. Pada akhirnya justru akan membuat insan tersebut semakin tak berdaya; semakin 'hilang dari peredaran'!

Pelarian itu tidak bisa meninggalkan hati yang sedang gelisah; karena hati sendiri tidak bisa dibohongi apalagi 'ditinggalkan'. Hanya dengan berdamai dengan hati dan diri sendiri akan membuat suasana menjadi lebih baik. Mensyukuri apa-apa yang sudah didapat dan tetap ikhlas berusaha untuk menjadi lebih baik bagi kebaikan diri dan sesama adalah langkah selanjutnya sehingga kegelisahan tersebut bisa 'didayagunakan'. Ini hanya masalah penemuan dan pengaplikasian 'konsep diri'*; entitas setiap pribadi yang unik. Dalam bahasa lain, menjadi pribadi yang lebih dewasa dari waktu ke waktu.

Cobalah simak pesan berikut! Pahami dan laksanakan dengan segera!
"Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi
Biar terjadi .
Hadapi dengan tenang jiwa
Semua... Kan baik baik saja

Bila ketetapan tuhan
Sudah ditetapkan
Tetaplah sudah .
Tak ada yang bisa merubah
Dan takkan bisa berubah

Relakanlah saja ini
Bahwa semua yang terbaik
Terbaik untuk kita semua
Menyerahlah untuk menang"





Arif Budiman, S.S.

* Anonymous. Pengertian Konsep Diri. http://belajarpsikologi.com/pengertian-konsep-diri/